Defisit perdagangan terjadi karena selama ini Indonesia masih bergantung bahan baku dan barang modal dari luar negeri. Setiap kali ada peningkatan kinerja industri secara bersamaan impor barang modal Indonesia ikut naik.
"Kita harus akui bahwa kita defisit sampai US$ 5 miliar. Tetapi betul juga Mari (menteri perdagangan) bilang tekornya itu karena impor kita sebagian besar karena bahan baku dan barang modal dan itu harus ditanggulangi," kata Hidayat di kantornya, Jakarta, Senin (7/2/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi pondasi kita sebenarnya agak rapuh. Makin tinggi ekspansi industri, semakin besar nanti impor sehingga neraca pembayaran pernah minus juga ini yang mau kita tanggulangi," katanya.
Rencanaya, ia bertekad akan menekan ketergantungan impor barang modal dengan mengundang investor barang modal, terutama mesin-mesin industri tekstil dan lain-lain.
"Saya mau meremajakan 600 mesin industri tekstil bayangkan kalau dalam 4 tahun saya impor, apalagi dari China padahal kita harus berkompetisi dengan China, itu tidak masuk dalam otak saya," ujarnya.
Menurut Hidayat, pihaknya sudah mengundang investor mesin asal China yang dimaksud. Investor barang modal asal China akan bekerjasama dengan produsen-produsen tekstil di dalam negeri untuk memproduksi mesin di dalam negeri.
"Saya sudah kirim orang ke China dan India," katanya.
(hen/dnl)











































