"Kesel sih kesel, kalau saya bisa protes sih protes, tapi kan saya rakyat kecil," kata Marhamah salah satu ibu rumah tangga yang membeli tahu di Pasar Meruya Ilir kepada detikFinance, Jakarta Barat, Selasa (8/2/2011).
Marhamah menuturkan, sebagai konsumen ia akhirnya tak bisa berbuat apa-apa di tengah himpitan kenaikan harga pangan pokok belakangan ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mau protes kemana? Ya kalau ada duit ya beli, kalau nggak ada ya udah nggak usah beli," timpal Novi ibu rumah tangga lainnya.
Sementara itu, Timah, salah satu pedagang tahu di Pasar Meruya Ilir mengatakan semenjak tahun baru imlek kemarin harga tahu sudah naik. Hal ini sedikit banyak, kata Timah, mempengaruhi penjualan tahunya.
"Sebagai pedagang, saya melihatnya sekarang semua serba mahal, akhirnya sepi. Kalau pembeli, kasihan yang anaknya banyak, kasihan," ujar Timah.
Menurutnya, kenaikan harga tahu untuk jenis tahu China naik dari Rp 1.500 menjadi Rp 1.750 per potong. Sementara untuk tahu potong sudah naik dari Rp 1.500 menjadi Rp 2.000 per bungkus, untuk tahu kulit yang sebelumnya setiap sepuluh potong Rp 1.500 sekarang dijual Rp 2.000.
"Saya denger ini naik karena katanya kacangnya lagi mahal, ibu-ibu ada yang nerima ada juga yang nggak nerima," katanya.
Sementara itu ibu rumah tangga lainnya yang ditemui detikFinance di Pasar Meruya Ilir, Sumiatun mengatakan kenaikan harga pangan saat ini seperti sudah biasa. Sehingga masyarakat mau tidak mau harus menelan kenaikan harga itu.
"Yah kita ngerti aja dah, tahu naik kan karena kacangnya (kedelai) mahal," ujar Sumiatun.
(hen/ang)










































