"Kebanyakan jengkol makanan masyarakat, balik lagi ke faktor cuaca yang menentukan," kata Ketua Umum Asosiasi Sayur dan Buah Indonesia Hasan Johnny Widjaja kepada detikFinance, Selasa (8/2/2011).
Hasan menambahkan beberapa pekan terakhir diakuinya harga jengkol naik tajam karena suplai di sentra jengkol seperti Lampung berkurang. Sehingga kata dia, tak mengherankan keberadaan jengkol di pasar-pasar tradisional sulit ditemukan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Johnny menambahkan, fenomena melorotnya suplai jengkol yang berimbas pada kenaikan harga tak terlepas dari upaya pemerintah melakukan penataan produksi dan distribusi produk pertanian. Menurutnya di negara-negara lain seperti China, komoditi pertanian di kelompokan berdasarkan kluster, sehingga suplai dan distribusi lebih mudah dikontrol.
"Sebenarnya yang paling parah di negara kita itu, kita tak punya kawasan kluster pertanian, misalnya adanya kawasan jengkol, kecuali salak kita sudah bagus," ucapnya.
Harga jengkol, bersamaan dengan sayur mayur lainnya memang terus meningkat. Berdasarkan data kementerian perdagangan pada tanggal 31 Januari 2011, tercatat tren perubahan harga tertinggi terjadi pada jengkol di Pasar Kramat Jati, dengan kenaikan 4,2%.
Pada tanggal 29 Januari 2011 harga jengkol sudah Rp 20.000 per Kg, tanggal 30 Rp 22.000 per Kg. Sementara harga rata-rata minggu I bulan Januari masih Rp 5.971 per Kg, minggu II Rp 7200 per Kg, minggu III Rp 9.643 per Kg.
(hen/qom)











































