Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan faktor pendorong pertumbuhan ekonomi tesebut adalah semakin membaiknya kinerja ekspor dan investasi.
"Mungkin saja (ekonomi) tumbuh 7%, tetapi belum bisa tahun ini. Mungkin sekitar 6,5%-6,6%," ujar Bambang di Gedung DPR-RI, Selasa (8/2/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bambang mengatakan, didasarkan pada kinerja ekspor dan investasi yang belakangan menunjukan performa sangat baik diyakini akan berlanjut terus sejalan dengan dukungan dan kebijakan fiskal dan pemerintah.
"Pendorong utama growth (pertumbuhan ekonomi) 2011 ekspor dan investasi. Kalau untuk belanja pemerintah memang didisain bukan sebagai pendorong perekonomian. Kecuali bentuknya investasi pemeritnah. Tetapi itu pun masuk dalam investasi, bukan government spending (belanja anggaran pemerintah)," tambahnya.
Pemerintah dalam asumsinya, lanjut Bambang memang memilih bersikap moderat dengan mematok asumsi pertumbuhan ekonomi 2011 sebesar 6,4% dan tidak mau memacu pertumbuhan berlebihan karena dapat memicu inflasi tinggi.
"Biasanya pertumbuhan tinggi, inflasi terdorong naik. Jadi itu penyebabnya. Kami lihat pada negara-negara emerging market. Pertumbuhan ekonomi kencang, inflasinya mati-matian. Itu gejala overheating," ungkapnya.
Oleh karena itu, lanjut Bambang, diperlukan beberapa dukungan seperti insentif-insentif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi ke atas.
"Untuk itu kami dukung dengan kebijakan fiskal seperti insentif, tax holiday. Penanaman modal asing juga kami arahkan masuk ke industri manufaktur dan pembangunan infrastruktur akan kami dorong," tukasnya.
(dru/dnl)










































