Indonesia Dukung Arab Saudi Agar OPEC Naikkan Produksi
Kamis, 13 Mei 2004 16:57 WIB
Jakarta -
Indonesia mendukung usulan Arab Saudi agar OPEC segera menaikkan produksinya 1,5 juta barel untuk mestabilkan harga minyak yang saar ini mencapai 40 dolar AS/barel.Namun hingga kini OPEC belum memutuskan apakah usulan itu akan direalisasikan atau tidak karena masih menunggu persetujuan dari seluruh anggota OPEC.Dipastikan, usulan Arab Saudi itu akan dibahas saat pertemuan produsen dan konsumen di Amsterdam, Belanda pada 22 Mei 2004. Demikian diungkapkan Presiden OPEC yang juga Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro yang juga Sekjen OPEC saat jumpa pers di Gedung DESDM, Jakarta, Kamis, (13/5/2004)."Saya melihat usulan Arab Saudi sangat positif. Saya mendukung selama itu dapat menstabilkan harga minyak yang sangat tinggi dan berada di luar control OPEC. Tapi OPEC belum bias memutuskan hal itu sebagai keputusan kami karena diperlukan konsensus seluruh anggota," kata Purnomo. Untuk itu, diharapkan pada pertemuan produsen-konsumen di Amsterdam, seluruh menteri-menteri OPEC hadir untuk membicarakan usulan Arab Saudi itu. "Jadi bukan tak mungkin pertemuan di Amsterdam akan menjadiextraordinary atau emergency meeting bagi OPEC," ungkapnya. OPEC sendiri pada pertemuan April di Wina memutuskan untuk memangkas produksinya 1 juta barel per hari menjadi 23,5 juta barel. Pasalnya OPEC melihat adanya kecenderungan penurunan konsumsi minyak di dunia karena musim semi. Namun pada kenyataannya harga minyak terus melambung tinggi hingga mencapai 40 dolar AS/barel. Arab mengusulkan agar OPEC menambah produksinya untuk meredam gejolak harga minyak.Menurut Purnomo, OPEC sendiri saat ini telah memproduksi lebih dari 2 juta barel per hari untuk menekan tingginya harga minyak. Itupun belum termasuk dengan produksi Irak sebesar 2,3 juta barel per hari yang belum dimasukkan dalam total kuota produksi OPEC.Dengan demikian tingginya harga minyak saat ini berada di luar kontrol OPEC karena lebih disebabkan oleh non-fundamental faktor, seperti kebijakan pasokan bahan bakar di Amerika Serikat, spekulasi pasar dan juga faktor geopolitik.Ketika ditanya prediksi harga minyak pada kuartal kedua ini, Purnomo mengaku sulit melakukannya. Padahal pada bulan lalu Purnomo optimis harga minyak dunia akan berada di kisaran patokan harga OPEC 22-28 dolar AS/barel."Sulit ramalkan harga minyak akan berada di kisaran berapa karena banyaknya ketidakpastian politik saat ini. Untuk menurunkan harga minyak dibutuhkan bantuan semua pihak, tak hanya OPEC,"katanya. Namun demikian, lanjut Purnomo, jika The Fed jadi merealisasikan rencananya untuk memangkas suku bunga di AS, dikhawatirkan harga minyak akan kembali meningkat tajam. Dan jika itu terjadi maka bukan tidak mungkin resesi dunia dapat terjadi.
(mi/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































