Β
"Saat harga kedelai naik seperti sekarang ini pemerintah baru berwacana meningkatkan produksi, padahal pemerintah berjanji swasembada kedelai di 2014," kata Ketua Umum Dewan Kedelai Nasional Benny A. Kusbini kepada detikFinance, Jumat (11/2/2011).
Benny menuturkan dengan kebutuhan kedelai setiap tahunnya 2,4 juta ton sementara produksi kedelai lokal hanya 900.000 ton, sudah dipastikan ketergantungan impor kedelai tak bisa dihindari. Sementara disaat yang bersamaan harga kedelai dunia terus mengamuk mengikuti permintaan pasar.
"Pemerintah harus serius menangani kedelai, ini bukan hanya tugasnya kementerian pertanian, tapi pekerjaan umum, departemen keuangan, perhubungan, harus komprehensif," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bagaimana mau bersaing dengan produktivitas rendah, untuk kedelai itu minimal 2 ton per hektar," katanya.
Saat ini, lanjut Benny, produktivitas kedelai lokal hanya 800 kg-1,2 ton per hektar. Sementara negara-negara penghasil kedelai seperti Kanada telah mencapai 2,8 ton per hektar, Brazil 2,6 ton per hektar dan lain-lain.
Jika pemerintah serius, lanjut Benny, maka masalah kedelai harus segera diatasi. Selain meningkatkan produksi, lahan kedelai pun harus dipastikan dan harus ada penambahan 200.000 hektar per tahun. Selain itu, sekarang belum terlihat terhadap langkah pembinaan kepada petani kedelai seperti skim kredit, subsidi, infrastruktur dan lain-lain.
"Saya melihat pemerintah tak serius, sudah seperti pemadam kebakaran saja," katanya.
Untuk tahap awal, seharusnya pemerintah bisa memberikan subsidi harga kepada para petani agar harga kedelai lokal bisa bersaing dengan kedelai impor yang sudah sangat kompetitif. Harga kedelai lokal idealnya yang bisa membuat petani bersemangat menanam diangka Rp 7.000-8.000 per kg.
(hen/qom)










































