Indonesia Jadi Ajang Spekulator Karena Sistem Bebas Devisa
Sabtu, 15 Mei 2004 12:18 WIB
Jakarta - Indonesia saat ini menjadi negara yang sangat menarik untuk dijadikan ajang spekulasi investasi oleh spekulator, karena sistem bebas devisa yang diciptakan pemerintah sangat lemah dan tanpa ada kontrol."Indonesia menjadi negara yang sangat menarik untuk mendapatkan keuntungan besar dengan memanfaatkan sistem yang lemah karena bisa dijadikan ajang spekulasi, dan itu diciptakan oleh pemerintahannya sendiri. Jangan heran kalau nanti terjadi krisis kedua, karena memang kita menyediakan pintu untuk terjadinya itu, jadi pemerintah jangan menyalahkan spekulator," kata Pengamat Pasar Modal Dandossi Matram di Jakarta, Sabtu,(15/5/2004).Dijelaskan, dengan rezim bebas devisa saat ini orang akan sangat bebas untuk masuk dan keluar membawa uang. Sistem ini bahkan dinilai lebih lemah dibandingkan dengan masa orde baru. Sementara lanjut Dandossi, pemerintah sendiri tidak bisa menahan aksi spekulasi yang dilakukan spekulator tersebut karena memang sistemnya sangat lemah.Seperti diketahui, sebelumnya Gubernur Bank Indonesia (BI) Burhanuddin Abdullah mengungkapkan, bahwa BI saat in telah menegur empat bank karena melakukan aksi spekulasi valas. Selain itu juga ada satu bank lagi yang ditegur dibawah Direktorat Pengawasan Bank I BI.Dandossi menilai, teguran yang dilakukan BI tersebut hanyalah lip services karena memang pemerintah tidak bisa mengelak bahwa masalah ini merupakan kelemahan sistem di Indonesia. "Yang dikatakan Pak Burhan hanyalah lip service, kita tidak bisa mengelak karena inilah kelemahan kita. Saya punya uang dan pemerintah tidak berhak melarang saya," ujarnya.Dia juga menilai pencantuman sistem mata uang floating exchange rate dalam UU BI dinilai suatu kesalahan. Pasalnya, dengan pencantuman sistem mata uang floating exchange rate dalam UU berarti Indonesia akan menganut sistem ini selama-lamanya. "Sistem kurs yang dianut yakni floating exchange rate yang tercantum dalam UU BI adalah kesalahan fatal, karena itu terlalu rendah diatur dalam UU. Padahal sistem itu adalah bagian dari strategi bangsa dan pemerintah untuk mengatur apakah akan menggunakan fixed atau floating rate," katanya.Dicontohkan, saat ini Malaysia masih belum berani mencabut sistem yang dianutnya, karena masih belum yakin situasinya aman.Mengenai melemahnya dolar saat ini, yang hanya dipicu oleh kekhawatiran The Fed menaikkan tingkat suku bunga, menurut Dandossi, hal itu menunjukkan adanya suatu trauma atau ketidakyakinan investor terhadap pemulihan ekonomi yang terjadi. "Dan mereka menjadi sangat sensitif terhadap perubahan tingkat suku bunga," katanya.
(ir/)











































