Setelah 21 Tahun Harga Minyak Catat Rekor Tertinggi
Sabtu, 15 Mei 2004 16:08 WIB
Jakarta -
Harga minyak dunia mencatat rekor tertinggi dalam 21 tahun terakhir karena kekhawatiran akan berkurangnya persediaan minyak, setelah meluasnya ekspansi ekonomi dunia yang bisa memanas serta adanya serangan fasilitas minyak di Timur Tengah selama Perang Irak.Harga minyak mentah AS naik 30 sen dolar pada posisi US$ 41,38 per barel di New York Mercantile Exchange untuk kontrak harga bulan Juni. Sedangkan harga minyak London Brent naik 31 sen dolar AS di posisi US$ 38,80 per barel.Seperti diingatkan Pejabat Senior Rusia bahwa pengiriman dari eksportir minyak kedua terbesar di dunia ini telah memberikan batas harga tertinggi setelah beberapa tahun tumbuh dibawah batas normal karena tekanan atas persediaan minyak global. "Kenyataannya, kapasitas persediaan tidak cukup untuk hari ini ditambah naiknya permintaan di banyak tempat seperti Cina dan India," kata Vainshtok, Head of Russia's Oil Pipeline Monopoly, seperti dikutip Reuters, Sabtu,(15/5/2004). Ekspansi ekonomi Cina yang juga didukung oleh mulai pulihnya pertumbuhan ekonomi AS, telah menempatkan negara-negara penghasil minyak terpaksa menaikkan produksinya dan meninggalkan kesepakatan OPEC. Kecuali negara-negara utama produsen minyak di Arab Saudi, yang memompa produksi minyaknya hampir setara dengan permintaan yang ada.Melonjaknya harga minyak telah memberikan tanda bahaya yang menakutkan bagi konsumsi nasional, dimana hal ini telah menimbulkan kesulitan bagi pertumbuhan ekonomi dunia. Namun sejauh ini ketakutan tersebut tidak terlihat.Seiring dengan inflasi, harga minyak dunia saat ini telah mencapai separuh dari harga minyak pada saat Revolusi Iran tahun 1979, dimana rata-rata harga minyak mencapai US$ 78 per barel."Kelihatannya harga sebesar US$ 40 per barel bukan merupakan harga tertinggi karena tak satupun yang peduli dalam pemakaian konsumsi minyak saat ini," kata Katherine Spector, analis dari JP Morgan di New York.
(ir/)










































