Bangun PLTP Darajat III, Amoseas Gandeng Pertamina & PLN
Senin, 17 Mei 2004 16:57 WIB
Jakarta - Amoseas Indonesia Inc, anak perusahaan America ChevronTexaco Corporation, menandatangani kontrak kerjasama dengan PT Pertamina (Persero), PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan mitra lokal PT Derajat Geotermal Indonesia (DGI) untuk pengembangan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Darajat III senilai US$ 100 juta. Listrik yang dihasilkan PLTP Darajat berkapasitas 100 MW tersebut selanjutnya akan digunakan untuk memasok kebutuhan PLN kebutuhan Jawa Barat.Menurut Presiden Direktur Amoseas, Bernie Mc Closkey, pembangunan PLTP Darajat III adalah kelanjutan dari pengembangan PLTP Darajat I dan Darajat II. "PLTP Darajat III akan mulai dibangun tahun ini. PLTP tersebut akan menghasilkan tenaga listrik sebesar 110 megawatt yang akan dapat memenuhi kebutuhan listrik untuk kurang lebih 1 juta jiwa. Darajat III diharapkan dapat mulai beroperasi tahun 2006," kata McCloskey di Hotel JW Marriot, Jakarta, Senin (17/5/2004).Pada kesempatan yang sama, Dirut PLN Eddie Widiono mengatakan, listrik yang dihasilkan oleh PLTP Darajat III akan dibeli oleh PLN untuk mensuplai kebutuhan listrik di Jawa, khususnya Jawa Barat. "Berdasarkan kontrak yang ditandatangani tahun 1994, harga listrik yang dibeli PLN dari Darajat adalah US$ 4,23 sen. Tapi setiap tahunnya ada penyesuaian, mengikuti inflasi dan CPI (consumer price index) sehingga tahun ini harganya US$ 4,43 sen," katanya.Dalam kerjasama ini, Pertamina bertindak sebagai joint operator dengan Amoseas. Demikian menurut General Manajer Geothermal Pertamina Sukusen Soemarinda. "Ini karena Darajat berada di wilayah kerja Pertamina," katanya.Vice President Amoseas Riki F.Ibrahim mengatakan, dengan kerjasama ini nantinya Pertamina akan mendapatkan management fee sebesar 40 persen dari net income operational. Sementara PLN akan mendapatkan harga jual geothermal yang murah dari kerjasama ini. Namun ia menolak merinci berapa harga jual tersebut.Indonesia saat ini memiliki potensi panas bumi sebesar 20.000 MW atau 40 persen dari total potensi yang ada di dunia. Namun saat ini baru dikembangkan 5 persennya saja. Pengembangan potensi panas bumi Indonesia ini bisa digunakan untuk pembangkit tenaga listrik, selain dapat juga menghemat cadangan minyak dan gas bumi negara untuk kebutuhan domestik dan ekspor.
(ani/)











































