Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum HimpunanΒ Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Prabowo Subianto dalam pokok-pokok pikirannya yang diterima detikFinance, Jumat (18/2/2011).
"Penyebab krisis pangan saat ini sangat kompleks bila dibandingkan dengan krisis 2008. Penyebab krisis pangan kali ini merupakan gabungan dari berbagai hal, baik dari sisi konsumsi maupun produksi," tutur Prabowo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Memasuki 2011 FAO, mengingatkan lonjakan harga pangan global sejak akhir 2010. Ditandai dengan indeks harga pangan FAO pada Desember 2010 yang mencapai rekor tertinggi mencapai 214,7," jelas Prabowo.
Selain itu FAO dan OECD memprediksi pada 2007-2016 produksi pangan dunia merosot hingga 5%. Kenaikan harga pangan dunia diperparah dengan menurunnya produksi pangan dunia yang menjadi 'lampu kuning' agar kita waspada terhadap ancaman krisis pangan.
Di Indonesia, pemerintah dinilai belum berbuat banyak untuk meningkatkan produksi pangan.
Prabowo mengatakan, Indonesia sejak 2003-2004 dan 2008-2009 terus mengandalkan impor pangan.
"Meskipun di tengah laporan produksi pangan yang meningkat pemerintah masih melakukan impor. Waring dari FAO menyatakan di 2011 akan terjadi kenaikan pangan yang nyata sehingga kita perlu mewaspadai dengan meningkatkan produksi dalam negeri," jelas Prabowo.
(dnl/qom)










































