Konsorsium LSM:
70% Pinjaman ADB Tak Efektif
Selasa, 18 Mei 2004 12:42 WIB
Jakarta - Kalangan lembaga swadaya masyarakat (LSM) menilai pinjaman proyek dari Bank Pembangunan Asia (ADB) selama ini tidak berjalan efektif. Alasannya, 70 persen pinjaman proyek ADB tidak memberikan dampak ekonomi jangka panjang."Sebanyak 70 persen proyek ABD yang dilaksanakan tidak memberi dampak ekonomi jangka panjang," tandas aktivis konsorsium Working Group on MDB's, Febby Tumiwa, dalam jumpa pers di kantor Infid, Jl. Mampang Prapatan XI, Jakarta Selatan, Selasa (18/5/2004).Menurut Febby, dengan kondisi proyek yang semacam itu maka beban utang Indonesia semakin menumpuk, belum termasuk dana pendampingnya. Dalam kurun waktu 1968-2002, ADB setidaknya telah mengucurkan dana US$ 18,3 miliar untuk membiayai 268 proyek di Indonesia. Namun ternyata sebagian besar proyek itu dinilai gagal memberi manfaat kepada bangsa Indonesia.Anggota konsorsium LSM lainnya Arimbi Heroepoetri menyebutkan, program ADB yang dimaksudkan untuk menanggulangi kemiskinan sejauh ini justru menimbulkan bertambahnya jumlah kemiskinan. Bahkan, untuk kasus Indonesia dengan kucuran pinjaman mencapai US$ 18 miliar, ABD menyumbang hampir 20 persen total utang Indonesia. Sayangnya, hingga kini tidak ada pertanggungjawaban yang jelas akan kemaslahatan investasi utang tersebut.Hal senada juga diungkapkan Direktur Infid, Binny Buchori, yang mengatakan dari segi transparansi dan akses informasi proyek-proyek ADB sangat sulit untuk ditelusuri. Menurutnya, ADB beralasan akses informasi hanya diberikan untuk proyek-proyek yang dilaksanakan setelah tahun 1995.Dalam pandangan Binny, selama ini pinjaman dari ADB justru tidak memberikan manfaat kepada Indonesia, terutama jika dilihat dari efektifitas proyeknya. Bahkan tak jarang ADB berkolaborasi dengan IMF dan Bank Dunia menelorkan kebijakan yang menyangkut regulasi dan deregulasi sektor publik, semacam listrik, air maupun BBM, yang akhirnya membuat harganya melambung. "Regulasi dan deregulasi sektor publik itulah yang sangat berbahaya," tegasnya.
(ani/)











































