"Kalau kita lihat di pasar, dengan kita impor terus sudah 70-80% adalah buah impor. Kita ini negara agraris, kenapa buah saja harus impor terus?," kata Ketua Umum Asosiasi Sayur dan Buah Indonesia Hasan Johnny Widjaja kepada detikFinance, Senin (21/2/2011).
Ia juga mengatakan saat ini faktanya banyak buah-buah lokal yang harganya jauh lebih mahal dari buah impor. Lucunya kata dia, saat ini ada pemahaman di masyarakat buah lokal memang harus lebih mahal dari buah impor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikatakannya jika berdasarkan hitungan sederhana saja seharusnya buah impor harus lebih mahal karena ada beban biaya transportasi yang tinggi. Ia mencontohkan di negeri China sentra-sentra produksi buah-buahan dibangun secara serius dan dalam skala yang sangat besar
"Murahnya buah impor, karena biaya produksi mereka rendah," katanya
Menurutnya saat ini buah-buahan lokal yang beredar di pasar dalam negeri hanya sebatas jenis pepaya, semangka,salak dan beberapa buah lokal lainnya. Sementara itu, buah impor yang beredar antara lain apel, pir, jeruk, anggur, dan lain-lain.
Hal ini kata dia tidak terlepas dari kondisi pasar, di mana konsumen menghendaki barang murah, sementara pedagang termasuk toko moderen memberikan suplai dengan menawarkan berbagai buah termasuk buah impor.
"Itu kan karena supermarket ingin komplit menjual buah-buahan," katanya.
Ia mengharapkan ada upaya dari pemerintah untuk menggenjot produksi buah-buahan nasional agar petani lokal bisa menikmati pasar dalam negeri.Diantaranya dengan mendorong pengembangan teknologi dan sentra pertanian buah agar produksi buah lokal lebih tinggi. (hen/dnl)










































