Dradjat: Harga Minyak Bisa Dipatok US$ 26-28/Barel
Selasa, 18 Mei 2004 17:28 WIB
Jakarta - Melonjaknya harga minyak dunia hingga US$ 41 per barel mau tidak mau mengharuskan pemerintah mengubah asumsi harga minyak dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Diperkirakan, angka US$ 26-28 per barel adalah angka yang realistis."Akan lebih realistis kalau asumsi harga minyak di APBN dinaikkan. Angka US$ 26-28 per barel masih cukup realistis," ungkap ekonom Indef, Dradjat H. Wibowo, kepada wartawan di kantor INFID, Jl Mampang Prapatan XI, Jakarta Selatan, Selasa (18/5/2004).Dalam pandangan dosen STIE Perbanas ini, asumsi harga minyak yang dipasang pemerintah dalam RAPBN 2005 sebesar US$ 24 per barel dinilai masih sangat konservatif."Angka US$ 24 per barel itu masih sangat konservatif. Itu akan mempersulit kita untuk mengatasi lapangan pekerjaan karena yang diharapkan adalah adanyawindfall gain pada akhir tahun. Padahal hal itu tidak bisa diapa-apakan," ujarnya.Diakui Dradjat, dengan adanya kenaikan asumsi dasar harga minyak ini maka dipastikan subsidi akan melonjak. Namun pada akhir tahun, secara netto dipastikan pemerintah masih akan menerima tambahan penerimaan."Apalagi kalau pemerintah optimalkan pengaturan masalah gas, listrik dan minyak sehingga tidak ada tumpang tindih. Selama ini kan sektor itu selalu tidak sinkron kebijakan satu dengan yang lain," kata anggota legislatif dari Partai Amanat Nasional (PAN) tersebut.Menurut Dradjat, harga minyak dunia diprediksi masih akan tetap tinggi sampai dengan kuartal ketiga tahun 2005 akibat ketidakseimbangan permintaan dan penawaran.Faktor Irak yang belum pulih kondisi keamanannya juga turut mempengaruhi suplai minyak dunia. Bahkan Indonesia pada tahun ini diperkirakan produksi minyaknya tidak akan sanggup memenuhi target sebelumnya yang sebesar 1,4 juta barel per hari. Adapun realisasi saat ini hanya mampu memproduksi 0,9 juta barel per hari."Jadi angka US$ 26-28 per barel masih cukup realistis. Tapi kalau dipasangnya US$ 30 per barel maka itu bisa menimbulkan masalah karena membuat kita kedodoran," demikian Dradjat Wibowo.
(ani/)











































