Kasus mengenai susu yang mengandung bakteri Enterobacter Sakazakii tak akan mengganggu industri susu. Karena susu sudah menjadi kebutuhan utama masyarakat saat ini.
Demikian disampaikan oleh Executive Director Nielsen Teguh Yunanto dalam jumpa pers di kantornya, Jakarta, Selasa (22/2/2011).
"Susu berbakteri itu cuma riak kecil. Jadi sudah kebutuhan utama masyarakat untuk minum susu, kalau tidak minum susu minum apalagi?" kata Teguh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pengaruhnya cuma ke iklan. Jadi kemungkinan iklan susu bakal makin lebih banyak. Kasus susu ini tidak banyak berpengaruh ke konsumen," ujar Teguh.
Polemik susu ini bermula ketika ketika para peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB) menemukan adanya kontaminasi Enterobacter Sakazakii sebesar 22,73 persen dari 22 sampel susu formula yang beredar di 2003 hingga 2006. Hasil riset itu dilansir Februari 2008. Namun, IPB tidak bersedia menyebutkan merek susu yang dimaksud. Begitu juga dengan pihak Kemenkes.
Menkes pun digugat di PN Jakarta Pusat untuk mengumumkan susu yang mengandung bakteri tersebut. Bahkan putusan di tingkat Kasasi telah memerintahkan agar Kementerian Kesehatan segera mengumumkan susu yang mengadung bakteri tersebut. Dengan alasan belum menerima salinan surat putusan kasasi MA terkait susu formula.
Untuk diketahui sebelumnya, MA dalam putusan kasasinya meminta Menteri Kesehatan membuka nama-nama merk susu formula yang mengandung bakteri Sakazakii. Pengajuan perkara itu diajukan oleh pengacara publik David Tobing.
(dnl/ang)











































