Harga Minyak US$ 100, Jangan Panik...

Harga Minyak US$ 100, Jangan Panik...

- detikFinance
Kamis, 24 Feb 2011 11:58 WIB
Jakarta - Harga minyak mentah dunia baik jenis light sweet ataupun brent sudah menembus US$ 100 per barel. Untuk negara-negara Asia, harga minyak yang sudah menembus level psikologis itu sebaiknya tidak terlalu dikhawatirkan karena tidak akan memberikan guncangan secara langsung.

"Pertama, jangan panik. Pertumbuhan di kawasan Asia tidak terlalu sensitif terhadap harga minyak sebagaimana kawasan lain di dunia," ujar Frederic Neuman, ekonom HSBC dalam ulasannya yang dikutip detikFinance, Kamis (24/2/2011).

Kedua, masalah yang tepat: jika Asia benar-benar membeli bahkan pada harga tersebut, ada risiko biaya barang-barang tidak akan datang secara cepat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ketiga, Asia akan merasakan dampak inflasi yang lebih tinggi. Menurut Neuman, hal itu tidak akan terbantahkan. Meski terjadi apresiasi mata uang, tidak akan membuat perbedaan yang besar disini. Yang diperlukan kawasan ini adalah kebijakan moneter dan fiskal yang ketat.

Namun menurut Neuman, arguman untuk kebijakan moneter ketat itu memang sudah harus diberlakukan sebelum harga minyak menembus US$ 100 per barel.

Ia menjelaskan, meski tidak mendapatkan dampak yang besar dari lonjakan harga minyak terhadap inflasi, namun Asia mendapatkan tekanan dari gejolak harga pangan. Dan kenaikan harga minyak bisa menambah tekanan terhadap inflasi tersebut meski tidak secara langsung.

"Asia menghadapi tekanan harga pangan, yang telah mendongkrak Consumer Price Index (CPI) atau Indeks Harga Konsumen dari Korea hingga Pakistan," jelas Neuman.

Harga minyak dinilai tidak memberikan sumbangan langsung ke CPI, namun dampaknya adalah melalui kenaikan harga pangan. Ini karena harga minyak memberikan dampak penuh pada harga pangan melalui pupuk dan biaya transportasi, serta subtitusi BBM dengan biofuel.

Di Asia, harga minyak memberikan bobot hingga 5,8% terhadap inflasi. Dan jika harga minyak menembus US$ 110 per barel, maka akan ada tambahan inflasi sebesar 0,6 persen poin. Dan jika harga minyak menembus US$ 120 per barel, maka tambahan inflasinya adalah 1,2 persen poin, harga minyak US$ 130 per barel, tambahan inflasi sebesar 1,7 persen poin. Inflasi di Asia sendiri tercatat sebesar 5,5%.

"Tidak perlu panik, lonjakan harga minyak tidak akan langsung memukul Asia dalam semalam, namun bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi," ujarnya.

Neuman menegaskan, risiko terbesar adalah pada ekspor, karena negara-negara Barat akan mengalami penurunan daya beli yang lebih besar ketimbang pasar Asia.

"Kenaikan harga minyak mentah yang berkesinambungan secara khusus sensitif pada inflasi di China, Thailand, Filipina, dan India," tambahnya.

Akibat konflik di Libya, harga minyak mentah dunia terus melonja. Pada perdagangan di pasar Asia pagi ini, minyak Brent kembali naik 85 sen menjadi US$ 112,10 per barel. Sementara minyak light sweet yang kemarin sempat menembus US$ 100 per barel, pagi ini tercatat naik 1 sen menjadi US$ 99,10 per barel. (qom/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads