Pengguna Menciut, Pertamax Bukan Lagi 'Playmaker' Inflasi

Pengguna Menciut, Pertamax Bukan Lagi 'Playmaker' Inflasi

- detikFinance
Selasa, 01 Mar 2011 17:48 WIB
Jakarta - Pengguna Pertamax ramai-ramai beralih ke premium karena selisihnya yang semakin besar. Dengan pengguna pertamax yang semakin menciut itu, maka sumbangannya ke inflasi ketika harga BBM non subsidi itu naik nyaris bisa diabaikan.

Demikian disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman HeriawanΒ  saat ditemui di kantornya, Jalan Dr. Sutomo, Jakarta, Selasa (1/3/2011).

Seperti diketahui, harga BBM non subsidi kembali naik seiring melonjaknya harga minyak mentah dunia akibat krisis di Timur Tengah. PT Pertamina (persero) kembali menaikkan harga Pertamax mulai 1 Maret. Dengan kenaikan itu, maka selisih dengan BBM bersubsidi jenis premium pun semakin besar. Ambil contoh, untuk harga pertamax di Jakarta sudah mencapai Rp 8.100 per liter, bandingkan dengan premium yang hanya Rp 4.500.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Rusman, saat ini meskipun harga Pertamax naik, tetapi tidak memberikan tekanan terhadap inflasi. Pasalnya terdapat migrasi pengguna Pertamax ke Premium sehingga mengurangi bobot Pertamax yang tadinya 25 persen menjadi sekitar 10 persen.

"Ketika Rp 6500 bobot Pertamax itu sudah hampir 25 persen, sekarang itu kira-kira 10 persen, jadi kalaupun Pertamax naik, karena bobotnya dalam komposisi BBM hanya 10 persen, ada inflasi tapi nggak signifikan, makanya nggak keluar dia sebagai playmaker dalam inflasi maupun deflasi bulan Februari," paparnya.

Untuk itu, kemungkinan meskipun harga Pertamax terus meningkat, migrasi pengguna BBM semakin besar mengingat jauhnya perbedaan harga antara Premium dengan Pertamax. Hal inilah yang menyebabkan tekanan inflasi berpindah kepada Premium.

"Masih lebih besar Premium, yang terjadi sekarang pelan-pelan pergeseran orang kembali ke Premium, mau dibilang Moral Hazard pun peduli amat, yang penting beli Premium 4500 daripada Pertamax 8100, jadi bobot premium jadi bertambah lagi sekarang," pungkasnya.

Terkait rencana pemerintah untuk mempertimbangkan opsi kenaikan harga BBM, Rusman mengatakan, untuk setiap kenaikan premium Rp 500, akan memberikan dampak inflasi sebesar 0,3 persen untuk sekali kenaikan.

Ia menyatakan porsi bensin terhadap inflasi sebesar 3 persen sehingga kenaikan Premium sebesar Rp 500 bisa memberikan tambahan inflasi sebesar 0,3 persen.

"Kalau premium naik Rp 500 dari Rp 4.500 kenaikan sekitar 10 persen, 10 persen kali 3 persen, berarti 0,3 persen tapi diurai dulu berapa premium, berapa Pertamax. Itu sekali saja tambahannya, habis itu gak ditambah lagi. Kalau naik Rp 1000, tandanya 0,6 persen tambahan inflasinya" ujar Rusman

(nia/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads