Akibat Harga Minyak Melambung, Pertamina Terancam Defisit
Selasa, 25 Mei 2004 10:52 WIB
Jakarta - Neraca keuangan Pertamina saat ini dalam keadaan kritis dan diperkirakan pada tahun 2004 akan mengalami defisit akibat tingginya harga minyak dunia. Dengan harga minyak yang tinggi tersebut Pertamina harus nombok untuk pembelian minyak dan operasi BBM. Demikian diungkapkan Direktur Keuangan Pertamina Alfred Rohimone saat rapat dengan Komisi VIII DPR RI di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Selasa (25/5/2004)."Jadi sekarang sudah mengalami defisit akibat harga minyak dan kurs. Dengan tingginya harga minyak, maka subsidi bertambah dan Pertamina harus nombok terlebih dahulu. Jadi pengeluaran lebih besar sehingga April kemarin kita sudah mandi darah," ujar Alfred.Ketua Panitia Anggaran Abdullah Zainie sebelumnya mengatakan bahwa subsidi BBM tahun 2004 terancam membengkak dari yang dianggarkan sebesar Rp 14,5 triliun menjadi Rp 30 triliun akibat tingginya harga minyak mentah saat ini. Kondisi keuangan Pertamina yang kritis ini sebenarnya telah mulai terjadi ketika pengalihan jabatan dari Direksi lama yang dipimpin Baihaki Hakim ke direksi baru Ariffi Nawawi. Pada tahun 2002, lanjut Alfred, direksi lama melakukan pembayaran utang jangka panjang dan jangka pendek sebesar Rp 14 triliun. Selain itu keuangan yang kritis juga disebabkan oleh kebijakan pembayaran dividen kepada pemerintah yang meningkat dari 10 persen menjadi 50 persen dan berlaku surut. Hal ini diperparah oleh naiknya nilai persediaan BBM dari Rp 10 triliun menjadi Rp 15 triliun karena kenaikan harga minyak. Disamping itu APBN disusun dengan menggunakan asumsi harga yang rendah padahal harga minyak mentah lebih tinggi dan cenderung naik. Selama ini pemerintah membayar talangan subsidi dengan dasar asumsi pada APBN sehingga Pertamina harus menyediakan dana atas jumlah subsidi yang belum dibayar pemerintah.Untuk mengatasi potensi defisit pada cash flow, menurut Alfred, pertamina akan meminta pembayaran marketing fee oleh pemerintah. Selain itu Pertamina juga mendesak pemerintah untuk membayar subsidi tahun sebelumnya serta membayar subsidi di muka pada tahun berjalan berdasarkan harga aktual. "Selain itu kita juga akan mengkaji ulang proyek investasi baru khususnya yang memberatkan cash flow perusahan," tegas Alfred. Untuk itu Pertamina akan melakukan koordinasi dengan Depkeu untuk pencairan dana dari escrow account, marketing fee yang jelas, pembayaran subsidi tepat waktu serta rencana divestasi non operating asset. Untuk jangka menengah, Pertamina juga akan meminta kepada pemerintah untuk mengkonversi utang Pertamina menjadi penyertaan modal dan untuk jangka panjang. Pertamina juga akan meminta pemerintah untuk memperbaiki harga BBM.
(qom/)











































