Menurut data FAO, Indeks Harga Pangan atau Food Price Index yang memonitor perubahan harga rata-rata dalam satu bulan untuk beberapa jenis makanan pokok, melonjak ke 236 poin pada Februari, dibandingkan pada Januari yang sebesar 231. Angka tersebut merupakan yang tertinggi sejak FAO memulai perhitungan Indeks Harga Pangan tersebut.
"Lonjakan harga minyak yang tidak diharapkan dapat memicu lagi situasi di pasar pangan yang sudah sulit," ujar Direktur Perdagangan dan Divisi Pangan FAO, David Hallam dalam pernyataannya seperti dikutip dari AFP, Kamis (3/3/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti diketahui, harga minyak mentah dunia terus melambung tinggi seiring krisis yang terus menerus menerpa Timur Tengah, termasuk yang terbaru adalah di Libya dan Iran. Harga minyak pun dalam dua pekan terakhir sudah menyundul harga psikologis di US$ 100 per barel.
Namun pada awal perdagangan di London, harga minyak sudah turun tipis setelah Liga Arab mengumumkan rencna perdamaian untuk Libya.
Pada awal perdagangan Kamis di London, minyak Brent pengiriman April bahkan sempat turun hingga 3 dolar menjadi US$ 113,09 per barel sebelum akhirnya pulih ke level US$ 116. Minyak light sweet tercatat turun 30 sen ke level US$ 101,93.
Kenaikan Indeks Harga Pangan itu merupakan kenaikan selama 8 bulan berturut-turut. Harga-harga produk susu tercatat naik hingga 4% dibandingkan Januari dan harga sereal naik 3,7% akibat meningkatnya permintaan dan turunnya suplai jagung.
"Kenaikan harga sereal terutama berhubungan dengan penggunaan jagung yang lebih besar untuk produksi ethanol di AS dan penyesuaian statistik untuk keseimbangan permintaan dan penawaran historis China terhadap jagung," jelas FAO.
Sementara harga daging tercatat naik 2% dibandingkan Januari, dan harga minyak serta lemah naik tipis dan gula justru turun tipis. (qom/qom)











































