Subsidi BBM Untuk Pertamina Tunggu Ijin Tertulis BPK

Subsidi BBM Untuk Pertamina Tunggu Ijin Tertulis BPK

- detikFinance
Rabu, 26 Mei 2004 14:21 WIB
Jakarta - Pemerintah akan mencairkan dana subsidi BBM tahun 2003 untuk Pertamina yang besarnya mencapai Rp 2,7 triliun atau 90 persen dari total dana yang ada di escrow account sebesar Rp 3,2 triliun. Pencairan itu hanya tinggal menunggu ijin tertulis dari BPK.Menurut Dirjen Lembaga Keuangan Darmin Nasution di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Rabu (26/5/2004), belum dicairkannya dana subsidi BBM itu karena audit BPK belum rampung.Sebenarnya, ujar Darmin, BPK telah memberi ijin secara lisan untuk pencairannya, namun pemerintah masih menunggu persetujuan secra tertulis agar apa yang dilakukan tidak melanggar UU. "Kita sudah permisi pada BPK agar bisa dicairkan sekitar 90 persen. Kita harus dapat ijin dulu karena sesuai peraturan resminya itu dana dicairkan pada saat audit selesai," ujarnya.Saat ditanya apakah masalah belum dicairkannya dana subsidi itulah yang menyebabkan keuangan Pertamina defisit, Darmin menolak menjawab karena akan dibicarakan sendiri dengan Pertamina. Yang pasti, tegas Darmin, subsidi akan dibayarkan pemerintah berdasarkan angka yang ada di APBN bukan berdasarkan asumi atau realisasi. "Subsidi berdasarkan APBN. Itu aturan yang ada kecuali aturan-nya diubah. Jangan lupa APBN itu dari UU, Kalau saya langgar APBN berarti saya melanggar UU," tegas Darmin. Namun Darmin mengaku tidak bisa memastikan apakah dengan akan dicairkannya subsidi BBM tersebut bisa menyelamatkan keuangan Pertamina. Yang pasti, tegasnya, keuangan pemerintah tidak ada risiko karena selalu menunjukkan kondisi yang baik. Seperti diketahui, sebelumnya Pertamina mengeluhkan kondisi keuangannya yang sangat sulit dan terancam defisit pada tahun 2004 ini menyusul membengkaknya harga minyak dunia. "Jadi sekarang sudah mengalami defisit akibat harga minyak dan kurs. Dengan tingginya harga minyak, maka subsidi bertambah dan Pertamina harus nombok terlebih dahulu. Jadi pengeluaran lebih besar sehingga April kemarin kita sudah mandi darah," ujar Direktur Keuangan Pertamina Alfred Rohimone. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads