Hal ini disampaikan oleh Menteri Keuangan Agus Martowardojo ketika ditemui di kantornya, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Selasa (8/3/2011).
"Kita waspadai seandainya ICP naik menjadi US$ 90, sekarang itu ICP di kisaran US$ 86 dalam 12 bulan terakhir, kalau naik sampai dengan US$ 90 atau US$ 95, US$ 100, kita sudah analisa. Secara umum walaupun kita lakukan kajian terhadap perubahan-perubahan, itu di APBN ada tambahan Rp 10 triliun sampai Rp 17 triliun defisit," tutur Agus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita dari pemerintah terus mewaspadai gejolak harga minyak dan pangan. Kita sudah lakukan simulasi dan kita merasa memang belum perlu melakukan penyesuaian APBN-P atau penyesuaian harga BBM," ujar Agus.
Mengenai upaya pembatasan penggunaan BBM bersubsidi, Agus menyerahkan hal tersbeut pada pihak-pihak yang berwenang yakni Kementerian ESDM.
Namun yang penting bagi Agus, kuota BBM bersubsidi tidak melebihi kuota yang telah ditetapkan dalam APBN 2011 yaitu 38,5 juta kiloliter.
(nia/dnl)










































