"Konsorsium ini akan menghimpun dana guna membangun percepatan double track. Diharapkan selama 2 tahun bisa selesai tapi masih harus menunggu semua proses selesai," ujar Menteri BUMN, Mustafa Abubakar di kantornya, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Rabu (9/3/2011).
Ia menambahkan, konsorsium BUMN meliputi PT Kereta Api (KAI), PT Jasa Marga Tbk (JSMR), beserta BUMN-BUMN karya nantinya hanya mengeluarkan biaya Rp 6,5 triliun untuk membangun proyek tersebut. Angka ini lebih murah dibandingkan dana subsidi yang disiapkan pemerintah seperti disampaikan oleh Mustafa mencapai Rp 9 triliun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini, baru sedikit lintas kereta api yang sudah memiliki fasilitas double track, antara lain Jakarta-Cirebon dan Kutoarjo-Jogjakarta-Solo. Sementara itu, lintas yang hanya memiliki fasilitas single track lebih banyak seperti Cirebon-Kroya-Purwokerto-Kutoarjo, Solo-Madiun-Surabaya, Cirebon-Pekalongan-Semarang dan Surabaya.
Direktur Keuangan KAI Kurniadi Atmosasmito menjelaskan, pihaknya berencana mengambil alih proyek Pekalongan-Surabaya sepanjang 388 kilometer. "Namun, kita masih menunggu keputusan dari pemerintah," ujar Kurniadi.
KAI Kejar Kontribusi Pendapatan 60% dari Bisnis Angkutan Barang
Untuk meningkatkan kontribusi bisnis angkutan ke pendapatan dari 41% ke 60% di 2014, KAI menambah armadanya dengan 144 lokomotif baru dan 2.400 gerbong pengangkut batubara dan barang.
"Saat ini sumbangan angkutan barang ke pendapatan itu 41%, nah dengan penambahan ini diharapkan pada 2014 porsinya bisa meningkat jadi 60%," ujar Direktur Utama KAI Ignatius Jonan.
KAI sendiri memeroleh sindikasi kredit investasi dari BRI dan BNI sebesar Rp 4,024 triliun dalam pengadaan 144 lokomotif dan 2.400 gerbong dengan nilai sebesar Rp 4,735 triliun. Saat ini KAI memiliki 300 unit lokomotif, dan 3.800 unit gerbong.
"Pengadaan Gerbong ini sendiri akan dilakukan melalui tender secara terbuka. Dari 144 lokomotif itu, 44 akan dialokasikan di Sumatera dan 100 di Jawa. Sedangkan gerbong, terdiri dari 1.200 unit gerbong pengangkut batubara dan 1.200 gerbong pengangkut barang," tambah Jonan.
Menurutnya, bisnis angkutan barang sendiri merupakan bisnis yang bisa dikomersialisasi. Ia berharap, lewat pengadaaan tambahan lokomotif dan gerbong tersebut dapat meningkatkan kapasitas angkutan menjadi 5.000 kontener per minggu.
"Di Pulau Jawa kami mengangkut 2.000-2.500 kontener per minggu, dua sampai tiga tahun lalu itu paling hanya 200-300 kontener per minggu. Saat ini ada sekitar 30 ribu kontener di jalan per minggu," tandasnya
(dru/ang)










































