Kepala BPS Rusman Heriawan mengakui, dari ketiga opsi yang diberikan Tim Pengkaji Pembatasan BBM bersubsidi, opsi kenaikan harga Premium sebesar Rp 500 merupakan opsi yang memberikan dampak terhadap inflasinya cukup besar.
Pasalnya, selain ada dampak langsung yang bisa dihitung pada sekali kenaikan, ada dampak tidak langsung (multiplyer effect) terhadap harga barang lainnya, meskipun opsi tersebut memberikan kemudahan bagi angkutan untuk menerima cashback (kembalian) setiap ongkos yang dikeluarkan atas kelebihan bayar setiap membeli Premium per liter.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk opsi kedua, yaitu perpindahan dari pengguna Premium ke Pertamax dengan harga Pertamax dipatok Rp 8.000, Rusman menilai hanya akan memberikan tekanan terhadap inflasi sekali saat kebijakan tersebut dilakukan.
"Kalau pembatasan itu hanya ada dampak langsung artinya konsumen disuruh beli Pertamax tapi sepanjang angkutan umum tidak naik, dia masih boleh menikmati BBM bersubsidi, berarti gak ada multiplier effect," ujarnya.
Sedangkan, untuk opsi terakhir, yaitu pembatasan BBM dengan sistem kendali, Rusman menilai hal tersebut masih sulit dilakukan dalam waktu dekat.
Namun, dari ketiga opsi tersebut, Rusman menilai opsi kenaikan Premium sebesar Rp 500, merupakan opsi yang lebih mudah dilakukan dibanding kedua opsi lainnya. Apalagi opsi ini memperkecil 'kecurangan' dalam pelaksanaannya di lapangan.
"Kalau saya, simplenya itu, premium dinaikin. Gak ada moral hazard sama sekali, apalagi kalau dilengkapi dengan cashback itu untuk sektor-sektor produksi, yang bisa memicu kenaikan harga dikasih cashback. Saya kira kan itu gak seperti zaman 1 Oktober 2005 yang naik sampai 100% lebih, yang sampai kemiskinan naik," jelasnya.
Rusman menambahkan kebijakan pembatasan BBM bersubsidi tersebut lebih baik dilakukan pada bulan dengan inflasi rendah. Dia menyebutkan bulan inflasi itu adalah dari Maret hingga Mei.
"Juni itu kita sudah dihadang anak sekolah, Juli sudah puasa lagi. Juli sudah puasa, tambah repot itu. (September) tambah lagi, sudah lebaran itu, orang mau pulang kampung ngisi bensin saja gak kuat buat motornya," ujarnya.
Namun, Rusman mengaku waktu yang paling tepat adalah April karena para petani sedang merasakan hasil panen dan tekanan terhadap inflasi dari beras juga mulai melandai.
"Iya itu pas itu, petani juga lagi happy panen, harga gabah di atas HPP, kan enak gitu," pungkasnya.
(nia/ang)











































