Menguktip kalimat seorang Ir Ciputra, enterprenuership di Indonesia sudah gawat betul. Ini menjadi penggambaran yang tepat, karena semakin banyak lulusan perguruan tinggi berorientasi jobs seeker (pencari kerja) daripada jobs created (pencipta lapangan kerja).
"Kondisi enterprenuer saat ini, saya sedih," kata Ciputra di hadapan Developer muda di Balai Kartini, Jalan Gatot Soebroto, Jakarta, Rabu (9/3/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kotoran yang dimaksud Ciputra adalah permasalahan yang ada di sekitar. Dengan gagasan dan terobosan kreatif, bisa melahirkan solusi (emas) bagi orang lain.
"Kreatif saja tidak cukup, tapi harus dipandang orang lain. Kalau belum didatangi pelanggan, berarti belum selesai," tambahnya.
Untuk menciptakan jiwa enterprenurship, tidak cuma kemauan tinggi. Namun harus berani menghadapi tantangan ke depan dan percaya diri.
Apa itu cukup? Ternyata ada hal lain yang luput dari konsep berfikir wirausaha, yaitu kurikulum yang tepat. Pendidikan Indonesia masih belum mengintegrasikan pendidikan enterpreneur, mulai dari sekolah dasar hingga pendidikan tinggi.
"Sekarang banyak orang masuk di business school (sekolah bisnis). Tapi lulusannya lebih memilih jadi profesional, dibandingkan enterpreneur. Jadi perlu integrasikan enterprenuer sejak dini. Business school itu beda dengan enterprenuer school," tutur Ciputra.
Dalam diskusi, banyak pertanyaan yang terlontak dari peserta. Pada umumnya peserta diskusi meminta nasihat kepada Ciputra, bagaimana memulai suatu usaha. Bagi profesional yang sudah berpengalamanpun, enggan memulai bisnis. Ada ketakutan dengan memulai dari nol, bisnis akan gagal. Di sisi lain, penanya sudah mendapatkan kenyamanan berupa fasilitas dan gaji cukup tinggi.
"Pak Ci, saya anggap bapak jadi panutan saya. Namun sulit rasanya untuk memulai bisnis, meski ada tawaran dari banyak teman?," kata salah satu peserta.
Apa jawaban Ciputra? "Bagaimana takut berenang kalau belum coba? Namun kalau belajar dulu, berkurang. Tinggal momennya. Jika anda profesional, bisa ikut Master enterpreur atau kursus 3 bulan. Akan saya garansi, tapi Anda juga harus ikuti aturan," imbuhnya.
Pun demikian disampaikan Presiden Universitas Ciputra (UCEC), Antonius Tanan. "Semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin kecil jumlah enterprenuer. Ini wajar karena di sana ada kenyamanan," kata Anton.
"Ada paradigma yang keliru. Berani atau niat, tidak hanya itu. Di tengah-tengah harus ada belajar. Bisa dari praktisi atau pengajar," tegasnya.
(wep/dnl)










































