Pasca krisis keuangan global perekonomian Jepang belum sepenuhnya pulih, terlihat dari pencapaian pertumbuhan ekonomi yang mengalami kontraksi 1,3% pada kuartal IV-2010.
Kontraksi atau pelemahan ekonomi di Jepang terjadi akibat penurunan konsumsi masyarakat sebesar 0,8%. Ke depan, potensi kontraksi ekonomi di Jepang diperkirakan cukup besar karena harga minyak dalam level yang tinggi dapat menekan industri dan konsumsi masyarakat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Oleh karena itu, pelambatan ekonomi Jepang untuk beberapa hal bisa memengaruhi kinerja ekspor Indonesia. Namun secara keseluruhan, sepertinya pengaruh tidak terlalu besar karena produk Indonesia tetap dibutuhkan oleh Jepang," ungkanya saat ditemui usai pembukaan rapat kerja Kementerian Perdagangan di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (10/3/2011).
Mari menilai ekspor Indonesia ke Jepang masih didominasi komoditas mentah yang memiliki keunggulan komparatif. Meskipun perekonomian Jepang melambat, komoditas dari Indonesia tetap dibutuhkan oleh kalangan industri di negara tersebut. Selain itu, dia menegaskan kinerja ekspor Indonesia tetap bisa terjaga meskipun terjadi pelambatan ekonomi di Jepang.
"Kami terus melakukan diversifikasi pasar, terutama ke negara dengan pertumbuhan yang masih bagus seperti China atau ASEAN," ujarnya.
Sementara itu, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa menyatakan peta geo ekonomi dunia saat ini memang telah berubah. Negara-negara mapan seperti Jepang atau AS masih berada dalam pemulihan ekonomi yang lambat, sedangkan negara-negara berkembang tumbuh menjadi kekuatan baru perekonomian global.
Oleh karena itu, Hatta menilai Indonesia perlu beradaptasi terhadap perkembangan tersebut melalui peningkatan perdagangan dengan negara-negara kekuatan ekonomi baru. Dia mengatakan pasar ASEAN perlu dieksplorasi lebih lanjut.
"ASEAN semakin penting dalam perdagangan global. Optimalkan diplomasi agar Indonesua bisa mendapatkan akses pasar," ujarnya.
Namuni, Hatta menambahkan pengembangan ekspor jangan sampai melupakan pasar dalam negeri. Dia menilai perdagangan dalam negeri masih menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi.
"Volume perdagangan antar pulau meningkat sangat pesat, contohnya aktivitas di Selat Sunda. Arus kendaraan pada 2004 masih 2,4 juta, kemudian bertambah menjadi 2,9 juta pada 2010. Tahun ini dipastikan di atas 3 juta," katanya.
Hatta menilai dampak apresiasi nilai tukar rupiah terhadap ekspor masih belum terlalu signifikan. Apresiasi nilai tukar rupiah diiringi oleh apresasi mata uang di negara-negara kawasan, sehingga secara relatif Indonesia masih cukup kompetitif.
"Persaingan masih sehat, kecuali kalau ada negara yang memperlemah mata uang. Itu akan menjadi distorsi," tambahnya.
Sebagai informasi, sepanjang 2010, ekspor non migas ke China mencapai US$ 14,08 miliar atau menempati urutan kedua setelah Jepang. Pada Januari 2011, nilai ekspor non migas ke China adalah sebesar US$ 1,15 miliar atau 9,66% dari total ekspor non migas.
Sementara ekspor non migas ke negara-negara ASEAN sepanjang 2010 adalah sebesar US$ 26,99 miliar. Pada Januari 2011, nilai ekspor non migas ke negara-negara ASEAN adalah sebesar US$ 2,84 miliar atau 23,79% dari total ekspor non migas.
(nia/dnl)











































