Demikian disampaikan Direktur Riset Ekonomi & Kebijakan Ekonomi Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo sehari sebelum penyelenggaraan forum berdiskusi 'Coping With Asia's Large Capital Inflows In A MultiiSpeed Global Economy' di Hotel Grand Hyatt, Nusa Dua, Bali, Kamis (10/3/2011).
Ia menerangkan, tren arus modal asing tetap terjadi tahun ini. Melanjutkan apa yang terjadi pada periode sebelumnya, pasar emerging market kawasan Asia masih menjadi pilihan utama pemilik modal dalam berinvestasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Masih US$ 400 miliar masuk ke Asia, paling besar tetap China. Indonesia jika tidak salah mencapai US$ 13-15 miliar, berdasarkan IIF," jelasnya.
Pemodal asing memilih Indonesia dalam berinvestasi, dan hanya kalah dari India dan China sebagai tempat utama mengucurkan uang. Mereka mempertimbangkan, Indonesia masih menarik baik dari sisi tingkat bunga ataupun fundamental yang terjaga utuh.
"Posisi daya tarik, dari interest rate differencial tentu menarik. Fundamental juga menarik, dengan pencapaian pertumbuhan 6,1% dan tahun ini 6,4%," ucapnya.
Jika dibandingkan dengan negara lain, tingkat suku bunga Indonesia tergolong tinggi. Meski sama-sama telah menaikkn suku bunga acuan, tetap saja perbedaan itu besar.
"Tekanan suku bunga terjadi di seluruh negara di dunia, karena merespon kenaikan harga minyak. Juga harga komoditas naik, dan ini dialami seluruh negara. Seluruhnya menaikkan suku bunga, namun masih ada perbedaan. Dan ini mempengaruhi (besar) capital inflow ke emerging market," tuturnya.
"Negara maju sudah naikkan, di Australia, New Zealand, Inggris. Emerging market juga sudah naik. Namun assesment di negara maju tetap ada perbedaan. Masih relatif besar," ucap Perry.
Atas dasar itulah, banyak lembaga keuangan internasional termasuk International Monetary Fund (IMF) berkeyakinan, arus modal ke negara berkembang tetap terjaga. "Market di Asia akan tetap besar," imbuh Perry.
(wep/dnl)











































