Ekonomi Jepang Hadapi Cobaan Berat, Terancam Alami Stagflasi

Ekonomi Jepang Hadapi Cobaan Berat, Terancam Alami Stagflasi

- detikFinance
Selasa, 15 Mar 2011 12:02 WIB
Ekonomi Jepang Hadapi Cobaan Berat, Terancam Alami Stagflasi
Tokyo - Perekonomian Jepang menghadapi cobaan berat menyusul bencana alam bertubi-tubi yakni gempa dan tsunami sekaligus ledakan reaktor nuklir. Ekonomi Jepang terancam mengalami stagflasi dan biaya untuk mengatasi krisis diperkirakan mencapai US$ 180 miliar atau sekitar Rp 1.600 triliun.

"Dampak paling cepat pada perekonomian Jepang adalah kemungkinan terjadinya stagflasi. Pertumbuhan ekonomi negatif, sementara harga-harga mendapatkan tekanan naik karena ketatnya suplai seperti beras dan bahan makanan lain, dan juga kemungkinan beberapa material yang dibutuhkan untuk rekonstruksi," ujar Gerard Lyons, kepala ekonom Standard Chartered seperti dikutip dari Reuters, Selasa (15/3/2011).

Stagflasi adalah suatu periode ketika suatu negara mengalami inflasi namun pada saat yang sama pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi atau menurun dengan tingkat pengangguran yang meningkat. Stagflasi biasanya terjadi pada suatu negara yang mengalami resesi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Skala kerusakan berarti kawasan yang terkena dampak mungkin memerlukan beberapa tahun untuk pulih sepenuhnya karena butuh rekonstruksi dan beberapa wilayah pertanian butuh ditanam ulang, dan hal itu tidak mudah untuk negara yang mengalami penuaan populasi dengan cepat," tambahnya.

Bencana yang berturut-turut itu juga telah meluluhlantakkan bursa saham Jepang. Setelah kemarin anjlok hingga 7%, pada Selasa ini indeks Nikkei-225 kembali mengalami kejatuhan parah hingga 1.232,78 poin (12,81%) ke level 8.387,71. Saham Tokyo Electric Power yang jatuh parah hingga 17% setelah Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) miliknya mengalami kerusakan.

Mata uang yen stabil di posisi 81,72 dolar, meski terjadi aksi jual hebat di pasar saham. Para pialang kini sedang bersiaga menghadapi kemungkinan penguatan yen secara tajam karena adanya repatriasi modal-modal, seperti yang terjadi pada tahun 1995 ketika terjadinya bencana gempa di Kobe. Sebelumnya yen sempat menguat tajam ke posisi 80,6 dolar, atau hampir mendekati level tertingginya di 1995 ketika menyentuh 79,75 dolar.

Di pasar surat berharga, surat utang berjangka pemerintah Jepang berjangka 10 tahun naik 0,40 poin ke 140,49 dan hampir mendekati titik tertinggi pada 4 Januari di level 140,71.

Empat ledakan kembali terjadi di kawasan nuklir Fukushima Daiichi setelah terjadinya gempa dan tsunami 11 Maret lalu. Semua mata kini tertuju pada penanganan krisis nuklir di kawasan tersebut yang telah mengakibatkan nihilnya pasokan listrik dan menghentikan produksi sejumlah pabrikan.

"Semua fokus pada krisis nuklir. Pada situasi di mana krisis sepertinya memburuk, investor asing, domestik memilih keluar dari pasar saham," jar Hideyuki Ishiguro, supervisor dari Okasan Securities.

Proses pemulihan dan rekonstruksi pasca gempa di Jepang diperkirakan membutuhkan dana hingga US$ 180 miliar atau sekitar 3% dari PDB Jepang atau 50% lebih tinggi dari total biaya yang dibutuhkan untuk rekonstruksi pasca gempa Kobe tahun 1995 silam. Sebagian besar lagi memperkirakan kebutuhan dana yang lebih besar hingga US$ 1 triliun untuk rekonstruksi Jepang dalam beberapa tahun ke depan.

Meski mengalami bencana terburuk, Jepang diyakini bisa memulihkan lagi perekonomiannya. Amerika Serikat (AS) secara yakin menyatakan Jepang bisa menghadapi tantangan ekonomi setelah terjadinya gempa dan tsunami itu. AS bahkan meyakini bencana itu tidak akan menghambat proses pemulihan global setelah terjadinya resesi.

"Kami percaya penuh kapasitas Jepang untuk menghadapi tantangan ekonomi pada masa sulit ini," ujar juru bicara Gedung Putih, Jay Carney.

"Sekarang masih terlalu dini, tapi kami tetap yakin Jepang dan juga dunia dapat menghadapi krisis ini dan merespons dan membangun kembali dengan jalan yang baik untuk Jepang dan juga dunia," tambah Carney.

Jepang kini tercatat sebagai negara dengan perekonomian terbesar ketiga di dunia setelah AS dan China. Jepang kini sedang menghadapi tantangan menghadapi posisi utang yang mencapai 200% dari PDB-nya sehingga membuat lembaga pemeringkat terpaksa menurunkan peringkatnya.

Seperti diketahui, pada Januari lalu, Standard & Poor's telah memangkas peringkat Jepang satu notch dari "AA" menjadi "AA-". Lembaga pemeringkat internasional itu mulai mengkhawatirkan tingkat utang Jepang yang mencapai 200% dari PDB yang merupakan tertinggi dibandingkan negara maju lainnya.
(qom/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads