"Kita sedang bidding broker penjual. Siapa namanya, nanti akan dicari calon pembelinya. Ini barang unik, enggak umum," jelas Direktur Keuangan GIAA Elisa Lumbantoruan usai RDP bersama Deputi bidang Infrastruktur & Logistik Kementerian BUMN dengan Komisi VI DPR, Jakarta, Rabu (16/3/2011).
Kesiapan penjualan 8 unit Boeing 737-400 ini menjadi fokus GIAA, setelah tahun lalu tertunda. Dimana kala itu, calon pembeli menawar harga dibawah penilaian dari tim.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, perseroan masih menantikan waktu yang tepat untuk menjual pesawat dengan corak merah tersebut. Elisa mengkhawatirkan, keadaan dunia saat ini seperti memanasnya geo politik di Timteng, bencana di Jepang dan kenaiakan harga minyak dunia, akan menyusutkan minat pembeli.
"Ada masalah harga minyak, Jepang dan geo politik, imbasnya menjadi tidak laku," paparnya.
Harga yang diabndrol GIAA untuk pesawat klasik miliknya, sekitar US$ 5 juta. Jika laku terjual, dana akan dimasukan ke kas perseroan dan digunakan untuk operational cash flow.
Kini Garuda mengoperasikan 70 pesawat. Ada 3 unit Boeing 747-400, 6 unit Airbus 330-300, 4 unit Airbus 330-200, 23 unit Boeing 737-800 NG. Juga ada 19 unit Boeing 737-400, 10 unit Boeing 737-300, dan 5 unit Boeing 737-500. Dana pada tahun 2014, rencananya GIAA telah mengoperasikan 116 pesawat, 90 unit Boeing 737 NG dan 26 unit A330-200.
(wep/ang)










































