Demikian disampaikan oleh Ekonom Universitas Indonesia (UI) Andrinof Chaniago kepada detikFinance, Kamis (17/3/2011).
"Itu membuat waktu nggak produktif, waktu menyenangkan diri, untuk keluarga itu tidak ada," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau dilihat 5 tahun belakangan ini waktu tempuh bertambah 50% per satuan jarak. Jadi kalau 20 kilometer tadinya ditempuh 1 jam, jadi 1,5 bahkan 2 jam. Kebayang dong 10 tahun lagi. Itu data dinas Perhubungan tapi diumpetin saja. Tapi berdasarkan pengalaman saya dari Citayem ke Simatupang yang tadinya 40-45 menit sekarang 2 jam," jelasnya.
Solusinya, ujar Andrinof, adalah penataan kembali ibukota negara ini. Caranya dengan memindahkan salah satu fungsi Jakarta, seperti pemindahan pusat pemerintahan.
"Jakarta harus ditata, pindah atau tidak harus ditata. Ini karena Pemda tidak merencanakan dengan baik. Tapi untuk memudahkan menata harus dipindahkan salah satu fungsinya, yang mungkin adalah pemerintahan pemerintahan supaya tekanan Jakarta berkurang," ujarnya.
Menurut Andrinof, hal tersebut dapat mengurangi daya tarik Jakarta. Pasalnya, pertumbuhan di daerah pinggiran Jakarta lebih cepat dibandingkan pertumbuhan nasional.
"Yang di pinggiran Jakarta pertumbuhan 3,5% per tahun, sedangkan nasional sebesar 1,49% di bawah 1,5%," jelasnya.
Untuk itu, perlu ditekan pertumbuhan warga di daerah pinggiran Jakarta.
"Caranya supaya angka pertumbuhan Bogor, Depok, Bekasi ditekan caranya pindah ibukota sembari membangun pusat lain di luar Jawa," tandasnya.
(nia/dnl)










































