Menteri Perikanan dan Kelautan Fadel Muhammad mengatakan praktik impor garam selama ini lambat laut telah banyak mematikan usaha petani garam lokal. Indonesia selama sekian tahun banyak mengimpor garam dari negara-negara Australia, India, dan Meksiko.
"Garam dulu banyak yang produksi (di dalam negeri) eh...sekarang kok tinggal 6 perusahaan. Jutaan ton garam masuk dari Australia, India, Meksiko kemudian akhirnya punya petani garam mati semua," kata Fadel di kantornya, Jakarta, Senin (21/3/2011).
Ia menjelaskan Indonesia pernah mengalami masa-masa memiliki produksi garam yang cukup tinggi. Namun kini impor garam Indonesia setiap tahun sedikitnya mencapai 1,6 juta ton, itu belum dihitung dari importasi melalui cara-cara ilegal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dulu dibiarkan begitu saja, tetapi sekarang tidak, akan kita kembangkan garam," katanya.
Sebelumnya Kementerian Perindustrian mencatat, produksi garam nasional di 2010 hanya 2% dari kapasitas produksi. Indonesia setiap tahunnya hanya mampu memproduksi 1,2 juta ton garam.
Misalnya dari sisi impor pada 2009, impor garam konsumsi hanya sebesar 150.000 ton, sementara tahun 2010 sedikitnya impor garam konsumsi mencapai 600.000 ton. Kebutuhan garam untuk konsumsi rumah tangga bisa mencapai 700.000 ton per tahun.
Sementara untuk kebutuhan garam industri nasional pertahunnya 2,6-2,8 juta ton, mencakup kebutuhan industri untuk industri chlor alkali plant (CAP) sampai 1,6 juta ton yang semuanya impor. Untuk industri pangan atau pembersih bisa mencapai 500.000 ton. Industri pengeboran bisa mencapai 125.000 ton dan kebutuhan industri lainnya 50.000 ton.
(hen/ang)










































