Hal ini disampaikan oleh Anggota Komisi IV Viva Yoga Mauladi dalam rapat bersama Kementerian Keuangan dan Kementerian Pertanian di Gedung DPR-RI, Senayan, Jakarta, Senin (21/3/2011).
"Kita sudah melakukan sidak di beberapa pasar. Harga sapi hidup per kilo Rp 20.000. Kalau sudah masuk pasar, sekilo bisa Rp 55.000. Kan tinggi sekali disparitas harganya. Ini pasti ada mafia daging yang melakukan kartel harga. Menguasai perdagangan dan mengontrol harga," tutur Yoga.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sidak pasar dilakukan di Bogor, Banten, Medan, Semarang, dan kota besar. Dan yang lebih lucu, sapi betina ikut dipotong. Karena kebutuhan lokal, keluarga, maka dipotong. Padahal kan tak boleh sapi produktif dipotong," kata Yoga.
Seharusnya sapi betina yang produktif dilarang untuk dipotong, namun para 'mafia' ini kata Yoga, sengaja membuat sapi-sapi betina itu cacat. Sehingga ada alasan untuk memotong sapi tersebut.
"Jadi ada mafia daging, importir yang bermain, pedagang lokal hanya pelayan saja. Karena pedagang lokal untungnya hanya Rp 2.000-3000 per kilo. Kalau tak ada kontrol harga maka akan terjadi terus seperti ini," tukas Yoga.
(dnl/dnl)











































