Pertama, adanya gejolak terhadap pasokan dan harga minyak serta energi yang diperparah dengan adanya konflik di Libya. Kedua, kerawanan pasokan pangan global dan kenaikan harga produk pertanian.
"Selain karena kenaikan biaya energi, perubahan iklim ikut mempengaruhi masalah pangan," ujar Pengamat ekonomi Drajad Wibowo melalui pesan singkatnya kepada detikFinance, Rabu (23/3/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dalam 2-3 bulan ke depan, misalnya, kita akan merasakan kesulitan mendapatkan onderdil mobil Jepang yang asli buatan Jepang," ujarnya.
Keempat, Drajad menilai akan ada lonjakan terhadap permintaan barang-barang industri primer dan hulu ketika nanti Jepang lakukan rekonstruksi.
"Banyak yang bicara soal relokasi pabrik Jepang. Percayalah, itu belum tentu terjadi. Barang dan jasa jantung teknologi akan tetap dimanufaktur di Jepang. Jadi akan ada kekurangan pasokan. Saat rekonstruksi nanti, permintaan barang primer dan barang hulu dari Jepang dan dunia akan meningkat. Kebutuhan baja misalkan akan meningkat," ungkapnya.
Keempat hal tersebut, jelas Drajad, akan berdampak pada inflasi untuk Indonesia meskipun nilai Rupiah menguat pasca bencana tersebut.
"Semua itu ujung-ujungnya berdampak inflasi Indonesia. Memang penguatan rupiah akan mengurangi tekanan inflasi. Tapi dampak netto dari keempat proses di atas dan penguatan rupiah masih tetap inflatoir," jelasnya.
Dampak lain, lanjut Drajad, adalah terhadap ekonomi rakyat. Banyak eksportir UMKM yang akan terpukul oleh kenaikan harga pangan dan energi global. Sebagian mereka juga akan berebut pasokan barang modal seperti mesin-mesin dan gas.
"Biaya freight and insurance juga naik. UMKM yang ekspor ke Jepang malah terpukul langsung penjualannya," katanya
Untuk itu, Drajad menyatakan pemerintah perlu tetap fokus untuk menjaga stabilitas harga barang sehingga mengurangi tekanan inflasi. Caranya, lanjut Drajad, dengan mengenadalukan belanja pemerintah. Pemerintah perlu segera menyiapkan langkah-langkah pengamanan kinerja eksportir UMKM tersebut.
"Karena itu pemerintah harus tetap fokus menjaga stabilitas harga-harga, sehingga dampak inflatoirnya bisa dikurangi. Pengendalian belanja pemerintah agar tidak melonjak-lonjak pada akhir tahun adalah salah satu caranya," pungkasnya.
(nia/ang)











































