Bank Dunia Ingatkan 3 Risiko Perekonomian Indonesia

Bank Dunia Ingatkan 3 Risiko Perekonomian Indonesia

- detikFinance
Rabu, 02 Jun 2004 15:54 WIB
Jakarta - Kepala Perwakilan Bank Dunia di Indonesia Andrew Steer mengatakan meski laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini mencapai 4,5-5 persen dan akan menunjukkan peningkatan pada tahun 2005 namun masih ada tiga risiko yang akan dihadapi negara ini.Risiko itu adalah: Pertama, kenaikan tingkat suku bunga dunia yang akan merepotkan Indonesia terutama dalam hal manajemen utang. Kedua, perlambatan pertumbuhan ekonomi Cina. Selama ini Indonesia sangat diuntungkan oleh pertumbuhan ekonomi Cina yang pesat karean tingginya ekspor ke Cina. Ketiga, melonjaknya harga minyak dunia.Hal ini disampaikan Andrew Steer dalam jumpa pers usai Mid Year Review CGI Meeting di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (2/6/2004).Sementara Menko Perekonomian Dorodjatun Kuntjara-Jakti menyebutkan dalam pertemuan itu setidaknya ada 3 masalah besar yang dibahas. Pertama, perkembangan ekonomi makro yang merupakan suatu hal yang bisa dicapai dengan baik selama 3,5 tahun terakhir. Tahun 2004 meskipun ada pemilu namun laju pertumbuhan ekonomi tetap dipertahankan. Kedua, Milenium Development Goal yang baru bisa dicapai pada tahun 2015. Ketiga, iklim investasi dimana dibahas mengenai keluhan dan observasi Indonesia yang belum sempurna dari dunia swasta.Namun menurut Dorodjatun pada kesempatan ini tidak dibahas mengenai jumlah pinjaman yang akan diberikan CGI karena belum selesainya pembahasan RAPBN 2005.Dalam pertemuan tengah tahunan ini CGI menyambut baik laporan kemajuan dari pemerintah atas target yang ditetapkan dalam white paper.Dalam penyampaiannya tim pemantau pelaksanaan Inpres 5/2003 menyampaikan sampai dengan akhir Mei 2004 pemerintah telah berhasil menyelesaikan 75 persen dari 136 rencana tindak yang memiliki sasaran waktu pada periode ini. Meskipun terdapat sejumlah tunggakan rencana tindak komitmen pemerintah tetap tinggi untuk selesaikan tepat waktu sehingga stabilitas ekonomi makro dapat terus terpelihara.Implementasi yang tepat waktu menjadi penting sejalan dengan pelaksanaan pemilu legislatif dan presiden. Hasil yang dicapai dari pelaksanaan Inpres 5/2003 ini memberikan sumbangan yang berarti bagi kesinambungan pertumbuhan ekonomi nasional.Selanjutnya dengan terpeliharanya stabilats makro ini maka sasaran pertumbuhan 4,8 persen pada tahun 2005 ini diprediksi dapat tercapai, dimana konsumsi tetap stabil sejalan dengan pengeluaran pemilu dan ekspor sejalan pemulihan ekonomi global.Sementara beberapa anggota CGI menyatakan prihatin atas menurunnya persepi terhadap iklim investasi di Indonesia disebabkan oleh ditetapkannya beberapa kebijakan di luar white paper dan keputusan pengadilan yang kontroversial. Hasilnya tahun 2003 investasi aktual hanya naik 2,2 persen dan rasio invetasi atas PDB jatuh pada tingkat terendah sejak tahun 1970-an.Pertemuan ini sepakat untuk dilakukannya perbaikan iklim investasi menjadi tantangan utama. Investasi yang rendah dan ekspor yang stagnan merupakan faktor kunci yang menahan laju pertumbuhan Indonesia.Peserta internasional lain juga prihatin atas beberapa inisiatif kebijakan perdagangan pemerintah akhir-akhir ini termasuk pelarangan impor beras, penetapan izin impor gula dan pelarangan impor rotan yang dapat mengancam reputasi keterbukaan Indonesia.Oleh sebab itu forum CGI mendesak agar pemerintah Indonesia konsisten dalam langkah kebijakan perdagangan sesuai white paper. (san/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads