Demikian disampaikan oleh Plt Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Bambang Brodjonegoro dalam jumpa pers di kantor Kementerian Keuangan, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Kamis (24/3/2011).
"Biasanya memang kalau Januari itu defisit," ujar Bambang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Perbaikan penerimaan ini dari penerimaan perpajakan khususnya pajak dalam negeri yang meningkat nominal dan presentase hampir sama," jelasnya.
Selain itu, lanjut Bambang, pajak perdagangan internasional juga turut mendongkrak penerimaan negara dan hibah pada periode Februari ini yang dipicu oleh meningkatnya harga kelapa sawit dunia.
"Kemudian pajak perdagangan internasional kalau dilihat Rp 8,7 triliun, tapi 38% dari realisasi padahal baru 2 bulan. Ini karena penerimaan bea keluar, khususnya CPO karena harga sedang tinggi. Ini mendorong penerimaan menjadi lebih baik," katanya.
Sedangkan realisasi belanja negara per Februari 2011 telah mencapai Rp 111,5 triliun atau 9,1% dari target dalam APBN 2011. Angka ini lebih tinggi 14% dari periode yang sama di 2010 yaitu Rp 97,8 triliun.
"Penyebabnya, belanja pemerintah pusat naik. Transfer daerah meningkat pesat, terutama dana perimbangan," tandasnya.
(nia/dnl)










































