Hasil Sidang di Beirut
OPEC Resmi Naikkan Produksi
Jumat, 04 Jun 2004 05:46 WIB
Den Haag - Konferensi Luar Biasa tingkat menteri Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) ke-131 di Beirut, Kamis (3/6/204), akhirnya resmi memutuskan untuk meningkatkan produksi minyak hingga 26 juta barel per hari (bph). Keputusan itu diambil dalam sidang yang dihadiri delegasi tingkat menteri dari seluruh anggota OPEC, yakni Aljazair, Indonesia, Iran, Irak, Kuwait, Libya, Nigeria, Qatar, Saudi Arabia, Uni Emirat Arab dan Venezuela. Delegasi Indonesia diketuai oleh Dubes/Wakil Tetap RI di Wina, Samodra Sriwidjaja. Konferensi menyepakati peningkatan produksi tersebut akan dilakukan secara bertahap, terhitung mulai 1 Juli 2004 mendatang dan kemudian meningkat lagi menjadi 26 juta bph terhitung mulai 1 Agustus 2004. Dengan demikian, OPEC akan menggenjot produksi tambahan sebanyak 2 sampai 2,5 juta bph. Produksi OPEC saat ini adalah 23,5 juta bph atau 88 persen dari kapasitas produksi kartel minyak beranggotakan 11 negara tersebut. Meskipun demikian, kesediaan OPEC menggelontor pasar dengan produksi ekstra tersebut belum tentu menjadi garansi bahwa harga minyak di pasar dunia akan turun."Karena penyebabnya bukan pada faktor fundamental pasar, maka sulit bagi OPEC dalam kapasitasnya untuk mengambil langkah-langkah yang tepat untuk membendung harga," kata Presiden/Sekjen OPEC dan Menteri ESDM Indonesia Purnomo Yusgiantoro pada konferensi, seperti dilaporkan langsung Kabidpen KBRI Wina Damos D. Agusman kepada detikcom Kamis malam ini atau Jumat (4/6/2004) WIB.Menurut Purnomo, sekalipun pasokan minyak di pasaran sudah memadai, namun di luar harapan harga minyak ternyata naik drastis. Kenaikan ini selain bukan karena faktor fundamental pasar, juga karena kombinasi berbagai faktor yang OPEC sendiri tidak memiliki kontrol. "Berbagai faktor tersebut antara lain spekulasi pelaku pasar, pengetatan kebijakan energi di AS, konflik geopolitik dan permintaan pasar yang cukup besar di Cina dan Amerika Serikat," katanya.Keputusan Beirut ini merupakan komitmen OPEC untuk menstabilkan pasar, seperti dinyatakan Purnomo menjelang dimulainya sidang di ibukota Lebanon itu. Namun, keputusan OPEC untuk meningkatkan produksi minyaknya itu bertolak belakang dengan tekad OPEC untuk menurunkan produksinya sesuai hasil sidang di Aljir (10/2/2004).Pengurangan produksi waktu itu dimaksudkan untuk mengantisipasi agar harga minyak tetap berada pada rentang mekanisme harga yang telah ditetapkan OPEC yaitu pada kisaran 22 sampai 28 dolar AS, khususnya pada kuartal kedua 2004 pada saat permintaan pasar dunia secara musiman akan menurun.Tanda-tanda OPEC berubah sikap sebenarnya sudah mulai ditunjukkan pada pertemuan informal di Amsterdam, sebelum mengikuti International Energy Forum. Penyebabnya antara lain, OPEC ketika itu mendapat tekanan berat dari AS, Inggris dan Jerman, supaya bersedia membuka kran produksinya lebih deras.
(es/)











































