Berdasarkan pemantauan detikFinance di Pasar Cengkareng, Jakarta Barat, para pedagang saat ini lebih memilih menjual daging lokal walaupun lebih mahal. Daging lokal memiliki kelebihan lebih segar sedangkan daging impor meski murah namun hasil pembekuan yang cukup lama.
"Sekarang yang impor mahal juga, Rp 55.000. Harganya sudah nggak jauh beda, sekarang beda Rp 5.000. Dahulu daging impor cuma Rp 50.000 per kg. Akhirnya orang lebih pilih daging lokal, karena daging baru (segar)," kata Sudarja seorang pedagang daging di Pasar Cengkareng, Jumat (25/3/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Yang daging impor kurang diminati basah, nggak baru," katanya.
Sudarja menjelaskan kondisi daging lokal yang terburuk paling lama mengalami pembekuan (es) 1-2 hari saja. Sementara kondisi daging impor dibekukan bisa berbulan bahkan sampai 3 bulan.
Sementara itu Amat sesama pedagang daging, menambahkan sampai saat ini harga daging lokal belum terpengaruh kenaikan harga ataupun penurunan harga. Ia mengaku sejak akhir tahun lalu, ia menjual daging lokal tetap berada di posisi Rp 60.000 per Kg.
"Harga masih sama seperti setelah lebaran Rp 60.000 per Kg," katanya.
Menurutnya para pedagang daging di Pasar Cengkareng sudah lama tak menjual daging impor. Permintaan pasar umumnya masih tinggi untuk jenis daging lokal terutama untuk pengguna restoran padang dan konsumen rumah tangga.
"Nggak ada yang suka dengan daging impor, sudah bulanan ini kita nggak jual. Di sini nggak ada yang jual impor nggak laku. Lakunya nggak seberapa, kalau bukan lebaran. Orang tahu kalau itu sudah bulanan," kata Amat.
Biasanya kata dia, yang membeli daging impor adalah konsumen yang belum mengenal cara membeli daging yang bagus. Sementara konsumen yang sudah terbiasa membeli daging berkualitas menghindari daging impor walaupun murah.
"Banyak pelanggan yang bilang rasanya nggak enak, daging luar (impor), sudah bulanan. Cara membedakannya kalau yang ditekan kenceng berarti lokal, kalau impor ditekan keluar air itu yang impor," katanya.
Amat mengaku dalam sehari ia bisa menjual rata-rata dua kwintal (200 Kg) daging. Ia mengatakan modal setiap kg daging potong Rp 50.000 per Kg. Dengan menjual Rp 60.000 per Kg, margin Rp 10.000 per Kg sudah ditangan.
"Kalau ada yang beli minimal 30 Kg, kita kasih harga lebih turun yah bisa Rp 58.000," katanya.
(hen/dnl)











































