"Kami telah membuat surat ke kepolisian (Mabes Polri), dan tembusan ke presiden RI, menko perekonomian, menko kesra, mendag, menteri koperasi koperasi dan UKM, Menkum HAM, dam komisi ombudsman," kata Kuasa Hukum PT Sekawanmakmur Bersama, Joey Pattinasarani dalam acara konfrensi press di Wisma Kyoei Prince Senin (28/3/2011).
Joey menambahkan, dengan adanya tembusan surat terseut dapat mejadi perhatian lebih untuk segera mendapatkan tindakan.
"Sampai saat ini belum ada tindak lanjut, kami harap dengan ini bisa menjadi perhatian," ujarnya
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski tak menjelaskan secara rinci, ia mengatakan permasalahan ini dipicu karena ada masalah antara eksportir dan importir.
"Klien kami sudah beli, sudah bayar, seharusnya itu punya kami, kami sudah menyelesaikan dengan importir. Kami sudah pernah coba mengikuti kemana dibawanya kedelai-kedelai itu, yang jelas penjarahan ini diantar kembali masuk gudang lagi, gudangnya di daerah Cilegon juga," katanya.
Ia juga mengatakan akan ada sekitar 2.280 pengrajin tahun dan tempe terancam gulung tikar karena distributor kedelai dari PT Sekawanmakmur Bersama terganggu. Salah satu gudang di Cilegon sedang mengalami penjarahan.
"Distribusi sudah terganggu sejak tanggal 5 Maret kemarin dan puncaknya 24 Maret ada penjarahan," katanya.
Diberitakan sebelumnya sebanyak 9.000 ton kedelai hilang akibat dijarah oleh oknum preman di gudang kedelai PT Krakatau Waja Tama, Cigading-Cilegon Banten. Kedelai itu merupakan milik PT Sekawanmakmur Bersama, kerugian yang ditaksir mencapai Rp 150 miliar.
(hen/hen)










































