Demikian disampaikan oleh Anggota Komisi XI DPR-RI Arif Budimanta kepada detikFinance di Jakarta, Minggu (3/4/2011).
"Deflasi ini bukan berarti prestasi, penurunan harga bahan makanan tidak diikuti oleh penurunan harga barang lain. Hal ini menggambarkan peningkatan beban produsen bahan makanan atau petani. Karena hargal jual produknya menurun sedangkan barang lainnya yang harus dibeli justru meningkat," ujar Arif.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Melihat perbedaan inflasi antar daerah di Indonesia juga terlihat cukup besar perbedaan harga atau terjadi disparitas harga pada komoditi yang sama di daerah-daerah yang berbeda di Indonesia. Hal ini rasa-rasanya tidak elok bagi Negara Kesatuan Seperti Indonesia. Faktor utamanya sudah jelas yakni tidak tersedianya infrastruktur yang memadai," papar Politisi PDIP ini.
Deflasi yang terutama disebabkan oleh deflasi bahan makanan ini menurut Arif, sepertinya menjadi 'akal-akalan' pemerintah untuk mencapai target inflasi tahun 2011 ini yakni sebesar 5,3%. Sehingga, Arif mengatakan menurunkan harga bahan makanan dilakukan dengan cara melakukan impor bahkan menurunkan tarif impor bahan makanan hingga Rp 0 pada musim panen beberapa komoditi pertanian terutama beras.
"Dan bagi saya ini catatan kelam untuk pemerintah yang telah mengorbankan petani untuk menutupi ketidak mampuannya dalam mengendalikan harga di Indonesia," kata Dia.
Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pada Maret 2011 terjadi deflasi 0,32%. Utamanya karena penurunan harga bahan pokok seperti cabai dan beras. Deflasi ini merupakan yang tertinggi dari tiga tahun terakhir karena yang pernah dicapai April 2009 sebesar 0,31% dan Januari 2009 sebesar 0,07%.
(dru/dru)











































