Program Ekonomi Capres Terlalu Ambisius dan Tak Realistis
Senin, 07 Jun 2004 14:06 WIB
Jakarta - INDEF menilai sasaran dan target kuantitatif platform ekonomi capres dan cawapres terlalu ambisius dan kurang realistis. Bahkan, platform ekonomi capres dinilai kurang jelas dalam pemilahan program jangka pendek, menengah dan panjang.Demikian hasil kajian tim INDEF yang disampaikan secara bersamaan oleh M. Fadil Hasan, Iman Sugema, Bustanul Arifin dan Aviliani di Aula Universitas Paramadina, Jl. Gatot Soebroto, Jakarta, Senin, (7/6/2004).Tim INDEF lalu mencontohkan program ekonomi capres Megawati-Hasyim Muzadi yang menargetkan pertumbuhan rata-rata 6,8 persen per tahun dan 7,9 persen pada tahun 2009. Sedangkan pasangan Wiranto-Salahuddin menargetkan pertumbuhan ekonomi 7-8 persen per tahun.Pasangan capres Amien Rais-Siswono menargetkan pertumbuhan ekonomi 6,3 persen per tahun, pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Yusuf Kalla menargetkan pertumbuhan ekonomi 7,6 persen pada tahun 2009. Sedangkan pasangan Hamzah Haz-Agum Gumelar tidak menargetkan secara kuantitatif.Menurut Iman Sugema, siapa pun yang terpilih jika tetap tidak mengubah berbagai kebijakan yang ada, platform yang disampaikan hanya menjual angin dan mimpi saja. Sebab, berdasarkan perhitungan INDEF untuk Indonesia pertumbuhan ekonomi secara jangka panjang rata-rata per tahun hanya akan mencapai 5,91 persen.Sedangkan, target penciptaan lapangan kerja seperti misalnya pasangan Megawati-Hasyim yang akan menciptakan lapangan kerja 2,5 juta orang per tahun, pasangan Wiranto-Salahuddin sebanyak 3,2 juta orang per tahun, dan SBY-Kalla sebanyak 3,5 juta per tahun juga sangat sulit direalisasikan.Menurut Fadil Hasan, tingkat elastisitas penciptaan lapangan kerja hanya sebesar 0,28 tiap satu persen pertumbuhan ekonomi, atau setiap satu persen pertumbuhan ekonomi akan menciptakan lapangan kerja sebanyak 280 ribu orang."Jadi, target itu tidak realistis karena memerlukan pertumbuhan ekonomi yang luar biasa," katanya.Sementara Aviliani menyoroti program dan strategi pembangunan kelima pasangan capres-cawapres yang dibuat secara tergesa-gesa sehingga menimbulkan banyaknya inkonsistensi, selain program kerjanya juga banyak diwarnai konsep pemikiran ekonomi konvensional.Program ekonomi itu juga kurang adanya sentuhan terhadap aspek institusional, terutama dalam hal peningkatan daya saing melalui pemotongan biaya transaksi.
(mi/)











































