"Begini loh kalau mau masuk ke Eropa standar penting kita sudah rintis 2-3 tahun lalu dan sekarang mereka akan buka cabang di sini ini," kata Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu saat ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (6/4/2011).
Mari menuturkan Inggris merupakan investor besar bagi Indonesia. Sehingga dengan adanya lembaga tersebut maka dapat memudahkan Indonesia dalam memenuhi standar produk untuk masuk ke pasar Eropa termasuk Inggris.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mari juga mengatakan nilai perdagangan Indonesia dengan Inggris dan negara Eropa lainnya bisa meningkat. Tahun lalau saja nilai perdagangan kedua negara hanya sekitar 10-12% total nilai perdagangan Indonesia.
"Kita harapkan meningkatan, kalau sekarang 10-12% bisa lebih lagi. Yang penting kita persiapan dulu," ujarnya.
Mari menyebutkan dengan adanya lembaga tersebut terdapat beberapa komoditas yang disesuaikan standarnya, seperti minyak kelapa sawit. Mari berharap agar komoditas tersebut bisa diterima standarnya oleh lembaga ini.
"Palm oil, karena kita punya Konferensi Minyak Sawit Lestari (RSPO), bagaimana RSPO bisa diterima di sana sebagai standar. Standar itu tidak hanya teknis tetapi ada standar kesehatan sustainable yang 5 tahun ke depan harus kita penuhi persyaratan," ujarnya.
Selain melalui British Standard Institute, Mari menyatakan Indonesia akan memperjuangkan standard produk Indonesia di kalangan negara Eropa, dalam Eropa Business Summit yang akan dilaksanakan pada 5 Mei 2011 mendatang.
"Di situ juga isu standar dan juga ada uni Eropa Indonesia Study Group juga ada rekomendasinya bicara market standar itu harus bisa kita atasi dan antisipasi 5 tahun ke depan," tandasnya.
(nia/hen)










































