3 Profesor Turun Tangan, Penyebab Ledakan Ulat Bulu Belum Jelas

3 Profesor Turun Tangan, Penyebab Ledakan Ulat Bulu Belum Jelas

Feby Dwi Sutianto - detikFinance
Jumat, 08 Apr 2011 17:04 WIB
Jakarta -

Kementerian Pertanian setidaknya telah mengirim tim khusus yang berisi para profesor pertanian. Namun hingga kini penyebab pasti ledakan ulat bulu yang menyerang beberapa daerah di Jawa itu belum bisa dipastikan.

Menteri Pertanian (Mentan) Suswono menyatakan sudah mengirim 3 peneliti ke lapangan untuk mencari tahu penyebab pasti. Para profesor pertanian baru bisa menduga-duga terkait penyebab ledakan ulat bulu tersebut.

"Ada kemungkinan migrasi karena erupsi Gunung Bromo (kasus ulat bulu Probolinggo)," katanya dalam acara konferensi pers di Jakarta, Jumat (8/4/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Suswono mengungkapkan, ada beberapa penyebab terjadi ledakan hama ulat bulu, antaralain soal cuaca ekstrem membuat faktor penghambat perkembangan ulat bulu berkurang.

Selain itu, terputusnya mata rantai yang menyebabkan predator ulat bulu berkurang dan faktor lainnya adalah kemungkinan terjadi migrasi populasi ulat bulu sebagai imbas dari aktivitas Gunung Bromo belakangan ini.

"Dalam kondisi normal ulat bulu selalu ada tetapi populasinya rendah. Perubahan faktor pembatas seperti perubahan kondisi lingkungan dan penurunan jumlah predator seperti semut rangrang dan burung yang ditangkap, merupakan penyebab meledaknya populasi ulat bulu," jelas Suswono.

Ia juga mengatakan tren permintaan beranekaragamnya konsumsi manusia saat ini seperti memakan tokek, ular, burung, katak dan binatang lainnya turut menyumbang berkurangnya predator (pemakan) dari hama termasuk ulat bulu.

"Ular dimakan, tokek dimakan, katak dimakan, sehingga mengganggu keseimbangan, sebagai predator," katanya

Sementara itu Peneliti Utama Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Deciyanto Soetopo mengatakan faktor perubahan iklim belakangan ini membuat siklus hidup lebih cepat. Hal ini yang diyakini menjadi salah satu penyebab terjadi ledakan hama ulat bulu.

"Informasi awal serangga ulat bulu dimulai dari Probolinggo, kemudian ada serangan di daerah lain. Dari temuan spesiesnya berbeda, tanaman yang diserang bermacam-macam. Kondisi iklim 2010 cukup tidak bersahabat, musim kemaraupun hujannya cukup, sehingga 2011 terjadi penurunan faktor pembatas, ini yang memungkinkan terjadi ledakan," jelasnya.

Peneliti dari Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik Agus Kardinan menambahkan mengenai adanya dugaan migrasi populasi ulat bulu dari aktivitas Gunung Bromo, bisa memungkinkan karena kemungkinan ditempat asalnya mengalami gangguan predator, sementara di lokasi yang baru belum ada predator atau predator yang ada belum siap, sehingga memicu ledakan hama.

Entomologist Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik I Wayan Laba menambahkan soal kemungkian migrasi tak sepenuhnya bisa dibuktikan. Misalnya beberapa tempat yang terjadi juga serangan ulat bulu yang jauh dari kawasan Gunung Bromo.

"Di daerah lain seperti di Jawa barat, dan Lampung saya dengar, kemungkinan tak migrasi," katanya.

Meskipun kemungkinan faktor migrasi bisa saja terjadi, atau pun sejatinya potensi hama ulat bulu sudah ada di lokasi terjadi wabah ulat bulu seperti Probolinggo.

Ia juga mengatakan untuk bisa memastikan penyebab dan spesies apa saja yang menyerang belakang ini perlu penelitian mendalam yang tak hanya sebulan dua bulan. Menurut Wayan paling tidak memerlukan waktu 2 tahun karena harus mengetahui berapa kali siklus dari ulat bulu tersebut.

"Penelitian tidak hanya sebulan dua bulan, kita butuh 2-3 tahun, tergantung dana pemerintah," katanya

Mendengar hal tersebut Suswono menimpali soal dana penelitian, menurutnya kementerian pertanian memiliki dana tersebut. Dikatakannya saat ini yang terpenting jangka pendek,serangan ulat bulu telah reda.

"Untuk diteliti secara tuntas memang memerlukan waktu," katanya.

(hen/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads