Ketua Bidang Layer Pinsar Unggas Nasional (Asosiasi Peternak Unggas se-Indonesia) Vinca Lestari Dharmawan mengatakan hancurnya harga ayam petelur dan telur ayam setidaknya sudah berlangsung di akhir Maret 2011. Hal ini disebabkan terjadi penumpukan stok lebih dari 20% ditingkat peternak.
"Suplai yang naik ini bukan karena bertambahnya populasi namun karena ayam tua yang sebelumnya ditahan keluar, sekarang baru keluar karena market lebih prefer mengambil yang tua," katanya kepada detikFinance, Kamis (14/4/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Apalagi ayam pedaging sudah merugi berjalan 6 bulan lalu. Sekarang ini industri peternakan sedang terpuruk," ucap Vinca
Menurutnya, saat ini kondisi pasar perunggasan memang sedang jatuh ke titik terendah karena pasar masih sepi. Ia mengaku belum bisa memastikan sampai kapan kondisi ini berlangsung.
"Kondisi cuaca pancaroba sekarang ini susah diprediksi," katanya.
Kondisi mengenaskan para peternak dialami oleh Gunanto seorang peternak ayam di Purbalingga Jawa Tengah.
Menurutnya para peternak harus menerima pil pahit karena kenaikan pakan dalam sebulan sampai tiga kali. Bahkan harga kenaikan konsentrat sudah menembus sampai Rp 600 per Kg dalam 3 bulan terakhir namun harga ayam dan telur terus turun.
Gunanto mengatakan harga jagung sudah naik sampai Rp 1000 per Kg dan harga konsentrat sekarang di level 5500 per Kg. Sementara harga jagung giling kisaran Rp 3800 per Kg.
Untuk harga telur terus turun dari 14.000 per kg pada bulan lalu sekarang hanya Rp 11.500 per Kg. Harga daging ayam hanya dihargai Rp 10.000 per kg dan harga ayam hidup turun dari Rp 13.000 per Kg menjadi Rp 10.000 per Kg.
"Kalau harga pakan terus naik dan harga telur dan daging tak kunjung membaik, peternak kecil banyak yang terancam gulung tikar," keluh Gunanto.
(hen/qom)











































