"Fenomena China itu fenomena global yang memukul produksi dan perusahaan hampir di seluruh dunia, bukan cuma Indonesia saja," kata Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Mahendra Siregar ketika ditemui di kantornya Jl Ridwan Rais, Jakarta, Kamis (14/4/2011).
Mahendra juga mengatakan Indonesia pun tidak bisa mengikuti apa yang telah dilakukan oleh China dalam memproduksi barang-barang murah. Hal serupan pun dirasakan oleh negara-negara lain yang harus kewalahan melawan murahnya produk China.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meskipun ia begitu yakin dalam jangka waktu yang relatif singkat, China tidak akan lagi memproduksi barang murah dalam jumlah yang banyak. Penyebabnya lambat laun daya saing China akan turun karena semakin mahalnya ongkos produksi di Negeri Tirai Bambu tersebut.
"China sendiri, secara bertahap, ongkos produksinya kan semakin mahal jadi sebentar lagi dalam hangka waktu 3 sampai 5 tahun mereka tidak lagi berkutat di low cost mass production," katanya.
Menurutnya rentang waktu 3-5 tahun kedepan menjadi waktu yang sangat lama bagi produsen dalam negeri untuk terus bisa bersaing dengan produk super murah dari China. Bahkan jika berpikir pesimis industri di dalam negeri setelah periode itu tak bisa dijamin masih bisa bertahan dari gempuran barang murah.
"Tapi untuk produksi kita 3 sampai 5 tahun kan lama sekali, persoalannya itu, bisa-bisa sudah tidak ada lagi mereka (produsen dalam negeri)," ujarnya.
(hen/hen)











































