Kandidat Dirjen FAO dari Indonesia Tawarkan Reformasi

Laporan dari Roma

Kandidat Dirjen FAO dari Indonesia Tawarkan Reformasi

- detikFinance
Kamis, 14 Apr 2011 23:28 WIB
Kandidat Dirjen FAO dari Indonesia Tawarkan Reformasi
Roma - Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) perlu direformasi agar menjadi organisasi yang lincah, transparan, tidak birokratis, terdesentralisasi, efektif dan efesien.

Demikian Prof. Dr. Indroyono Soesilo, calon Direktur Jenderal FAO periode 2012–2015 dari Indonesia, dalam presentasi di depan Sidang Dewan FAO ke-141 di Roma, Italia, Rabu (13/4).

"Dengan kepemimpinan baru yang memadukan akumulasi gagasan dengan pengalaman, serta dukungan kerjasama semua pemangku kepentingan, maka tantangan, terutama masalah kemiskinan dan kekurangan gizi sekitar 925 juta penduduk dunia saat ini akan dapat teratasi," ujar Prof. Indroyono. 

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagaimana disampaikan Minister Counsellor Pensosbud KBRI Roma kepada detikfinance, selain Prof. Indroyono masih ada lima calon Dirjen FAO lainnya yang juga menyampaikan presentasi pada tahap pertama proses pemilihan Dirjen FAO. Mereka berasal dari Austria, Brazil, Irak, Iran dan Spanyol.

Berbicara di depan delegasi dari 191 negara anggota FAO, Prof. Indroyono menjelaskan usaha-usaha desentralisasi dan kegiatan-kegiatan otonom FAO di lapangan dan di negara-negara anggota perlu didorong dengan memanfaatkan secara maksimal sumber-sumber daya pengetahuan yang dimiliki FAO.

Mengenai sumber-sumber pendanaan, Prof. Indroyono mengatakan masalah ini akan dikelola secara lebih efektif dan efisien. Pada saat bersamaan rasa kepemilikan FAO perlu diperluas dengan mendorong partisipasi sebanyak mungkin pemangku kepentingan.

"Di samping itu juga terus berupaya untuk meningkatkan kerjasama dengan organisasi-organisasi internasional lainnya," tegas peraih Ph.D untuk geologic remote sensing dari Universitas Iowa ini.

Dikatakan, FAO sebagai organisasi berbasis pengetahuan perlu melakukan reposisi dengan bekerjasama dengan negara-negara anggota untuk mengatasi tantangan-tantangannya. 

Program dan proyek FAO perlu lebih diarahkan untuk mencapai misi FAO, yaitu mengentaskan kemiskinan dan kekurangan gizi dunia, dengan menciptakan ketahanan pangan difokuskan pada kebijakan yang berhubungan dengan pertanian, perikanan, kehutanan, bio-energi, perubahan iklim dan manajemen sumber daya alam. 

Menjawab pertanyaan dari tujuh kelompok kawasan di Dewan FAO, pria kelahiran Bandung yang saat ini menjabat Sekretaris Menko Kesra, itu menekankan mengenai perlunya ketersediaan, aksesibilitas dan keterjangkauan serta keamanan pangan.

Ketersedian pangan dapat dilakukan dengan meningkatkan produksi, termasuk perikanan dan peternakan, bio-energi, di samping mengadakan mitigasi dan adaptasi untuk mengatasi perubahan iklim dunia.

Aksesibilitas pangan perlu diintergrasikan secara nasional dan dihubungkan secara global dengan asesmen pasar yang kuat dan langkah-langkah penetrasi pasar. Aksesibiltas pasar juga mengikuti kebijakan keseimbangan perdagangan bebas dan adil, namun pengikuti kearifan lokal dan diletakkan dalam lingkup kebijakan investasi dalam negeri.

Mengenai pemberantasan kelaparan Prof. Indroyono memperkenalkan kebijakan, yang disebutnya Tiga Pilar Program Pengentasan Kemiskinan.

Pilar pertama, Program Bantuan Langsung, seperti bantuan pangan, jaminan kesehatan dan beasiswa.

Pilar kedua, berkaitan dengan pemberdayaan manusia melalui pengenalan program dari bawah ke atas dan program dan proyek dilaksanakan sendiri.

Pilar ketiga, pengenalan kredit mikro untuk melakukan program-program kewiraswastaan. Ketiga pilar tersebut diharapkan dapat mengurangi jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Pemilihan  putaran kedua Dirjen FAO 2011-2012 akan dilaksanakan pada Konferensi Dewan FAO di Roma akhir Juni 2011 mendatang.

(es/es)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads