"Harus jadi perhatian kita, apa kita saat ini lari ke gandum karena memang konsumsi beras turun sedikit," ujarnya kepada detikFinance, Jumat (15/4/2011).
Hal ini, lanjut Sutarto, menyebabkan adanya kenaikan impor gandum yang cukup besar. Pasalnya, Indonesia bukanlah negara produsen gandum.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika tren tersebut terus berlanjut, tambah Sutarto, maka akan memberatkan negara. Dengan impor 6 juta ton saja, sekitar Rp 20 triliun telah digelontorkan untuk membeli gandum.
"Itu bakal lebih berat donk, gandum itu sekitar Rp 3-4 ribu per kilo, terigu lebih mahal lagi sekitar Rp 4-5 ribu per kilo. Makanya jangan makan mie instan terus sama roti, kita makan ubi kayu, ubi jalar saja supaya jangan naik terus, supaya bangsa kita tidak terjebak impor. Kalau semua makan roti, itu 100 persen kita impor," pungkasnya.
(nia/ang)











































