Gandum Kian Digemari, Impornya Makin Tinggi

Gandum Kian Digemari, Impornya Makin Tinggi

Ramdhania El Hida - detikFinance
Jumat, 15 Apr 2011 09:45 WIB
Gandum Kian Digemari, Impornya Makin Tinggi
Jakarta - Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoeso resah impor gandum jumlahnya selalu naik tiap tahun. Saat ini sedang terjadi pergeseran konsumsi masyarakat dari beras ke gandum.

"Harus jadi perhatian kita, apa kita saat ini lari ke gandum karena memang konsumsi beras turun sedikit," ujarnya kepada detikFinance, Jumat (15/4/2011).

Hal ini, lanjut Sutarto, menyebabkan adanya kenaikan impor gandum yang cukup besar. Pasalnya, Indonesia bukanlah negara produsen gandum.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Setiap tahun impor gandum naik secara berkala. Tahun ini saja sudah 6 juta ton, beberapa tahun lalu 4 juta dan kemudian naik lagi dan lagi. Ini harus dilihat juga, jangan impor beras saja yang dikritisi padahal hanya 2 juta ton dan itu untuk 95 persen masyarakat Indonesia yang makan nasi," keluhnya.

Jika tren tersebut terus berlanjut, tambah Sutarto, maka akan memberatkan negara. Dengan impor 6 juta ton saja, sekitar Rp 20 triliun telah digelontorkan untuk membeli gandum.

"Itu bakal lebih berat donk, gandum itu sekitar Rp 3-4 ribu per kilo, terigu lebih mahal lagi sekitar Rp 4-5 ribu per kilo. Makanya jangan makan mie instan terus sama roti, kita makan ubi kayu, ubi jalar saja supaya jangan naik terus, supaya bangsa kita tidak terjebak impor. Kalau semua makan roti, itu 100 persen kita impor," pungkasnya.

(nia/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads