Peneliti Ekonomi Utama BI Juda Agung menyatakan, International Monetary Fund (IMF) memproyeksikan potensi overheating di negara-negara berkembang hanya berdasarkan tren dan output ekonomi yang terjadi saat ini.
"Overheating IMF hanya melihat out put dengan trennya, tapi tren banyak metodologinya dan jadi perdebatan di BI dan lembaga IMF dan World Bank," ujarnya dalam diskusi dengan wartawan di Hotel Jayakarta Bandung, Minggu (17/4/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ke depan kalau ekonomi kita terus meningkat 6,4 persen 2011, 6,6 persen 2012, tanpa investasi yang meningkat menimbulkan overheating. PR kita meningkatkan kapasitas dari infrstruktur, investasi domestik dan asing," ujarnya.
Juda mencontohkan Cina sebagai negara yang memiliki pertumbuhan tinggi namun juga diimbangi oleh peningkatan infrastruktur dan investasi.
"Contoh China, selalu kelihatan China bisa tumbuh 11 persen karena kapasitas besar, sehingga ketika dia tumbuh tidak memanas. Infrastruktur di China berjalan dan investasi besar, tidak heran jika bisa tumbuh," pungkasnya.
Sebelumnya, Laporan World Economic Outlook IMF menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia termasuk ekonomi yang dianggap mulai kepanasan (overheating) dengan indikator pertumbuhan Indonesia yang dianggap terlalu cepat, angka pengangguran yang dianggap terlalu rendah, dan inflasi yang tinggi.
(nia/dru)










































