Buah China Banjiri Pasar, RI Tekor US$ 600 Juta

Buah China Banjiri Pasar, RI Tekor US$ 600 Juta

- detikFinance
Senin, 18 Apr 2011 13:20 WIB
Buah China Banjiri Pasar, RI Tekor US$ 600 Juta
Jakarta - Pasar lokal terus dibanjiri buah-buahan asal China yang harganya jauh lebih murah dari buah-buahan lokal. Ini menyebabkan Indonesia  tekor US$ 600 Juta berdagang buah-buahan dengan China.

Menteri Pertanian Suswono mengatakan, serbuan buah-buahan dari China makin deras karena harganya lebih murah dari buah lokal.

"Buah-buahan meningkatnya cukup tajam. Ini tentu saja memang dalam posisi harga di tingkat petani. Soal harga ini memang salah kita sehingga sulit bersaing dengan produk China. Padahal dari kualitas, produksi buah kita jauh lebih baik dari China yang cukup lama di cold storage (pendingin)," tutur Suswono saat ditemui di kantor Menko Perekonomian, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (18/4/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Suswono mengatakan, pasar domestik harus segera diubah, karena harga buah di petani dan di pasar perbedaannya sangat jauh. Dicontohkannya jeruk Pontianak, di petani jeruk ini hanya Rp 3.000-4.000/kg, tapi di pasar harganya bisa mencapai Rp 20.000/kg.

Kemudian Suswono menyatakan Kementerian Pertanian menerapkan program Pasar Tani untuk mengantisipasi semakin memburuknya penjualan buah lokal sebagai dampak derasnya buah asal China. Dengan adanya program tersebut, lanjutnya, diharapkan memendekkan rantai distribusi buah lokal sehingga harga buah menjadi terjangkau.

"Pasar Tani itu mendekatkan antara para petani produksi buah-buah langsung ke konsumen di pasar tani itu. sehingga tidak ada rantai yang panjang," jelasnya.

Dikatakan Suswono, Indonesia mencatatkan defisit perdagangan dengan China untuk buah-buahan sekitar US$ 600 juta sepanjang 2010.

Suswono menyatakan dari sisi pangan, peternakan, dan holtikultura perdagangan Indonesia dengan China selalu mencatatkan defisit.

"Dan yang paling cukup banyak defisitnya ini sampai US$ 600 juta itu adalah hortukultura, terutama buah-buahan, ya jeruk, pir, yang buah-buahan yang kita tidak ada namun terpaksa impor," ungkapnya.


(dnl/hen)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads