Dari hasil survei itu juga mengungkap bahwa masyarakat kelas atas lebih memilih produk berdasarkan manfaat dan meningkatkan kehidupan. Sedangkan, masyarakat kelas menengah ke bawah membeli produk untuk menambah konsumsi barang yang belum pernah mereka beli.
"Konsumer kelas atas lebih mementingkan kebutuhan gaya hidup dan kesehatan, sedangkan kelas menengah ke bawah mulai membeli produk yang dianggap premium." kata Executive Director of Client Leadership Nielsen Venu Madhav ketika di kator Nielsen, Jakarta, Selasa (19/4/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Konsumen lebih berani mengeluarkan uang untuk menggunakan produk lebih sering dan mencari produk premium," tuturnya.
Di tempat yang sama, Manajer FMCG Service PT Nielsen Teddy Lesmana menjelaskan, ada faktor pendorong yang menyebabkan konsumen kelas menengah ke bawah mulai membeli produk yang sebelumnya belum pernah mereka konsumsi.
"Faktor pendorongnya bisa dari konsumen dan manufaktur," katanya.
Lebih lanjut Teddy menambahkan, keingian konsumen kelas menengah bawah juga tinggi untuk ikut mengonsumsi produk premium, seperti keju dan makanan beku. Karena itu, pabrik banyak yang membuat produk dalam bentuk yang lebih terjangkau.
"Pabrik mulai bikin produk dalam bentuk sachet dan mulai dipasarkan. Manufaktur harus liat konsumen mau bayar berapa," ujarnya.
Selain itu, tingkat kepraktisan dan keterjangkauan, kata Teddy, juga bisa menjadi daya tarik konsumen kelas menengah bawah untuk ikut beli produk premium.
(hen/hen)










































