"Produk impor China yang mengisi pasar di Tanah Abang sudah banyak, 40% tekstil itu impor, sprei 80% impor, baju koko 30%, 75% baju anak-anak. Parahnya lagi bahan baku sekarang sulit," kata Ketua Komite Pedagang Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Heris kepada detikFinance, Rabu (20/4/2011).
Ia mengatakan serbuan pakaian jadi impor membuat para pedagang tak ada pilihan lain yaitu menjual barang impor khususnya dari China. Pasalnya, pedagang yang selama ini merangkap membuat pakaian jadi pun harus bersusah payah kekurangan suplai tekstil dari pabrikan besar di dalam negeri,
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Heris mencontohkan saat ini harga bahan baku blue jeans buatan lokal sudah naik dari Rp 28.000 menjadi Rp 54.000 per yard. Sementara produk yang sama dari impor relatif lebih miring.
"Sekarang ini sudah naik harganya, barangnya tak ada lagi," ujarnya.
Menurutnya serbuan garmen dan tekstil impor di Tanah Abang bukan hanya dari China saja. Umumnya produk-produk tekstil asal India begitu kuat mencengkramkan pasarnya di pasar garmen terbesar ini.
"Bahan baku dari India, perlu diantisipasi, produk mereka lebih kreatif. Pengusaha India, berani memberi tempo pembayaran lebih lama dengan harga lebih mahal," katanya.
Untuk itu ia mendesak pemerintah agar melakukan langkah yang nyata termasuk mereview bea masuk pakaian jadi asal China. Sebab, jika ini berlanjut para pedagang yang berbasis industri garmen skala kecil akan bergeser jadi pedagang murni yang imbasnya terjadi pengurangan tenaga kerja.
"Setiap IKM garmen bisa menyerap tenaga kerja mulai 5 sampai 200 orang," katanya.
Saat ini dari kurang lebih 28.000 pedagang yang ada di Tanah Abang sebanyak 75% merangkap industri kecil pembuat garmen, sisanya adalah pedagang murni. Omset para pedagang di Tanah Abang rata-rata bisa mencapai Rp 150-200 miliar per hari yang kian susut karena terbatasnya bahan baku.
(hen/dnl)











































