Emas yang sudah menembus US$ 1.500 per ounce untuk pertama kalinya pada Rabu lalu, kembali naik bersamaan dengan kenaikan aset-aset yang berisiko seperti saham-saham karena tekanan inflasi.
Pada perdagangan Kamis (21/4/2011), harga emas di pasar spot naik 0,6% menjadi US 1.507,21 per ounce setelah sempat menembus rekor di US$ 1.508,75. Harga emas berjangka untuk pengiriman Juni juga naik 4,90 dolar menjadi US$ 1.503,80.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dolar AS kemarin tercatat merosot tajam terhadap sekumpulan mata uang. Euro tercatat menguat tajam hingga 1,46 dolar untuk pertama kalinya dalam setahun terakhir sebelum akhrinye terkoreksi tipis. Euro tercatat ditutup pada 1,455 dolar.
Dolar AS juga merosot atas yen ke posisi 81,85 yen, dibandingkan sebelumnya di 82,54 yen. Prospek rendahnya suku bunga AS terus menekan dolar AS, apalagi setelah lembaga pemeringkat memangkas outlook AS karena masalah defisit anggaran.
"Dolar AS sedang berada di tengah trend penurunan. Jadi dolar bukan lagi safe haven dalam sudut pandang sultnya pemerintah AS memecahkan defisit anggaran dan emas mendapatkan keuntungan darinya," ujar Leo Larkin, analis dari Standard & Poor's seperti dikutip dari Reuters, Jumat (22/4/2011).
Harga emas sepanjang bulan ini sudah naik hingga 5 persen dan mencatat kenaikan selama 6 pekan berturut-turut, merefleksikan penguatan di seluruh pasar komoditas.
Pelemahan dolar AS itu juga ikut menaikkan harga minyak mentah dunia. Minyak light sweet pengiriman Juni naik 84 sen menjadi US$ 112,29 per barel, minyak Brent naik 14 sen menjadi US$ 123,99 per barel.
(qom/qom)











































