Seperti dikutip dari situs Kementerian Pekerjaan Umum (PU), Sabtu (23/4/2011), hal ini mengemuka dalam rapat Tim Nasional Persiapan Pembangunan JSS yang dipimpin Wakil Menteri PU Hermanto Dardak.
Dalam rapat tersebut dikatakan, studi tektonik di area Selat Sunda merupakan hal yang sangat penting dilakukan. Di daerah Selat Sunda juga terdapat pertemuan antara Lempeng Asia dengan Lempeng Australia, maupun pertemuan beberapa sesar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Persiapan pembangunan JSS juga dilakukan dari aspek pengembangan wilayah di sekitar jembatan. Saat ini, 2 daerah di sekitar JSS yaitu Provinsi Lampung dan Provinsi Banten dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Nasional sudah berstatus Kawasan Strategis Nasional (KSN) dan sedang dipersiapkan agar nantinya dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi," tutur Hermanto.
Ini dilakukan karena JSS menghubungkan 2 pulau yang sangat penting bagi perekonomian Indonesia yakni Jawa dan Sumatera.
Sementara itu, Masyhur Irsyam dari Tim Peta Gempa Indonesia mengatakan dalam waktu dekat pihaknya akan menyelesaikan penelitian mengenai probabilitas besaran goyangan/kegempaan di Selat Sunda dan tingkat kerawanan bangunan sehingga tingkat risiko kegagalan bangunan dapat diketahui.
Untuk keperluan pemantauan dan mitigasi bencana, di setiap titik konstruksi tiang pancang disarankan ada pemasangan GPS geodetik. Sedangkan mengenai rencana konstruksi jembatan yang akan dirancang agar tahan gempa hingga 9 skala richter, Masyhur mengatakan timnya berpendapat upaya tersebut sudah cukup moderat.
Jembatan Selat Sunda yang akan menghubungkan pulau Jawa dan Sumatera diperkirakan menelan dana lebih dari Rp 100 triliun. Pemerintah mengharapkan ada swasta yang bisa mendanai proyek jembatan yang akan melintasi Selat Sunda itu.
(dnl/dnl)











































